UINSURAKARTA- UIN Raden Mas Said Surakarta kembali menunjukkan keseriusan dan komitmen kebangsaannya melalui penyelenggaraan Kaderisasi Tim Deradikalisasi Nasional yang diikuti oleh 38 mahasiswa terpilih dari berbagai fakultas, organisasi mahasiswa, serta komunitas akademik di lingkungan kampus. Kegiatan ini menjadi salah satu program strategis kampus dalam memperkuat ketahanan ideologi mahasiswa, memperluas wawasan moderasi beragama, serta membangun generasi intelektual Muslim yang mampu menjaga persatuan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kegiatan yang berlangsung secara intensif dan akademik tersebut mendapat perhatian besar karena tidak hanya membahas persoalan radikalisme secara umum, tetapi juga mengkaji akar pemikiran radikalisme dari sudut pandang tafsir Al-Qur’an, sejarah pemikiran Islam, hukum tata negara, hingga dinamika sosial kontemporer. Para peserta mendapatkan pembinaan mendalam agar mampu memahami Islam secara komprehensif, moderat, dan sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Gambar: Foto pembelajaran deradikalisasi Berbasis Tafsir, Sukoharjo, (Selasa/19/05/2026)
Dr. H. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha
Acara ini dibimbing langsung oleh Dr. H. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha selaku Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. Dalam pembinaannya, beliau menegaskan bahwa ancaman radikalisme saat ini menjadi persoalan serius yang harus dihadapi secara ilmiah, sistematis, dan kolektif oleh dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi Islam. Menurut beliau, radikalisme modern berkembang dengan pola yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa sebelumnya. Jika dahulu penyebaran ideologi ekstrem dilakukan melalui gerakan fisik dan pertemuan tertutup, maka saat ini radikalisme menyebar secara masif melalui media sosial, propaganda digital, manipulasi ayat-ayat agama, video pendek, hingga narasi provokatif yang menyasar generasi muda dan mahasiswa. “Mahasiswa adalah sasaran paling strategis bagi penyebaran ideologi radikal karena mereka berada pada fase pencarian identitas intelektual dan ideologis. Karena itu kampus tidak boleh lengah. Kampus harus menjadi benteng pemikiran, benteng moral, dan benteng ideologi negara,” tegas beliau dalam pembukaan kegiatan.
Beliau juga menjelaskan bahwa salah satu faktor utama munculnya radikalisme adalah kesalahan dalam memahami teks agama, khususnya ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan jihad, loyalitas sosial, pemerintahan, amar ma’ruf nahi munkar, serta hubungan antarumat beragama. Banyak kelompok ekstrem, menurut beliau, memahami Al-Qur’an secara literal tanpa memperhatikan metodologi tafsir, konteks sejarah, maqashid syariah, maupun penjelasan para ulama tafsir yang otoritatif. Oleh karena itu, dalam kaderisasi ini para mahasiswa dibekali kajian tafsir yang sangat mendalam. Bahkan pembimbing menjelaskan lebih dari 40 kitab tafsir dari berbagai corak, generasi, dan mazhab pemikiran Islam untuk menunjukkan bahwa Islam sejatinya merupakan agama rahmat, kedamaian, keadilan sosial, dan penjaga kemanusiaan.
Beberapa kitab tafsir yang dikaji dalam pembinaan tersebut antara lain Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Mafatih al-Ghaib, Anwar at-Tanzil, Ruh al-Ma’ani, Tafsir Al-Baghawi, Ad-Durr al-Mantsur, Tafsir Al-Khazin, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Al-Munir, Fi Zhilalil Qur’an, Tafsir Al-Azhar, hingga berbagai tafsir kontemporer yang membahas hubungan Islam dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa para mufassir besar sejak dahulu tidak pernah mengajarkan tindakan ekstrem, kekerasan tanpa hak, maupun permusuhan yang merusak stabilitas masyarakat. Sebaliknya, para ulama tafsir menekankan pentingnya menjaga keamanan negara, melindungi masyarakat, menegakkan keadilan, serta menjaga persatuan umat sebagai bagian dari maqashid syariah. Dr. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha juga menjelaskan bahwa banyak kelompok radikal sering memotong ayat-ayat tertentu tanpa memahami sababun nuzul, konteks peperangan pada masa Rasulullah SAW, struktur bahasa Arab, maupun hubungan antar ayat dalam Al-Qur’an. Akibatnya, muncul pemahaman sempit yang mudah mengkafirkan pihak lain dan menolak sistem kebangsaan.
Beliau kemudian mencontohkan bagaimana para ulama tafsir klasik dan kontemporer menjelaskan ayat-ayat jihad bukan sebagai legitimasi kekerasan tanpa aturan, tetapi sebagai upaya menjaga keselamatan masyarakat, mempertahankan diri dari agresi, serta menegakkan keadilan dengan prinsip-prinsip syariat yang ketat. “Islam tidak dibangun di atas kebencian. Islam dibangun di atas rahmat, hikmah, dan kemaslahatan. Para ulama tafsir besar menjelaskan bahwa menjaga persatuan masyarakat dan keamanan negara merupakan bagian penting dari tujuan syariat,” jelas beliau dalam sesi kajian. Selain materi tafsir, peserta juga mendapatkan pembinaan mengenai strategi menghadapi propaganda digital, bahaya intoleransi, penguatan ideologi Pancasila, serta pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia. Para mahasiswa diajak memahami bahwa menjaga NKRI merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan sebagai warga negara sekaligus sebagai umat Islam.
Acara ini difasilitasi oleh Bidang Tafsir Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh UIN Surakarta (JQH UIN Surakarta) yang selama ini aktif mengembangkan tradisi kajian Al-Qur’an berbasis akademik, moderat, dan kontekstual. Keterlibatan Bidang Tafsir JQH menjadi bukti nyata bahwa organisasi mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga iklim kampus yang damai, ilmiah, dan bebas dari infiltrasi pemikiran radikal. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang sangat serius dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti sesi demi sesi dengan diskusi mendalam, kajian kitab, analisis fenomena sosial, hingga pembahasan strategi pencegahan radikalisme di lingkungan kampus dan masyarakat. Banyak peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya memahami Al-Qur’an melalui metodologi tafsir yang benar dan ilmiah.
Pihak UIN Surakarta menegaskan bahwa kaderisasi ini merupakan bagian dari langkah besar kampus dalam membangun generasi intelektual Muslim yang memiliki kekuatan akademik, kedalaman spiritual, serta loyalitas kebangsaan yang kuat. Kampus juga terus memperkuat program moderasi beragama, literasi digital, dan pendidikan konstitusi untuk menghadapi tantangan ideologi ekstrem di era globalisasi. Melalui kegiatan ini, UIN Surakarta kembali menegaskan eksistensinya sebagai kampus nasionalis tanpa radikalisasi dan kampus benteng NKRI yang siap menjadi garda terdepan dalam menjaga Pancasila, konstitusi, persatuan bangsa, serta mengembangkan Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks dan dinamis. (Editor: Gus/Nug) Foto: Nug/Istimewa
PENGUMUMAN BIAYA UKT & WAKTU SANGGAH UKT BAGI MAHASISWA BARU JALUR SNBT (2026)
13 jam yang lalu - UmumMengikuti Hingga Akhir, WR 1 Awasi Jalannya UMPTKIN 2026 di Kampus UIN Surakarta
13 jam yang lalu - Umum