
Najihah Nur Auliya
UIN Raden Mas Said Surakarta
Email : [email protected]
Majid Darussalam Jayengan berdiri karena adanya kebutuhan masyarakat muslim, khususnya warga keturunan Banjar akan tempat ibadah yang lebih layak dan terpusat. Pada awalnya, kegiatan keagamaan seperti pengajian dan shalat berjamaah masih dilakukan di rumah rumah warga secara sederhana. Namun, seiring bertambahnya jumalah masyarakat dan meningkatnya kebutuhan, muncul keinginan bersama untuk mendirikan sebuah masjid.
Masjid ini tidak hanya digunakan untuk ibadah, tetapi juga menjadi tempat dakwah, belajar agama, dan mempererat hubungan antarwarga. Jadi, sejak awal, masjid sudah punya peran penting, bukan hanya untuk urusan ibadah, tapi juga kehidupan sosial masyarakat.
Masjid Darussalam juga berkaitan dengan proses datangnya masyarakat Banjar ke wilayah Jawa. Ada beberapa alasan kenapa mereka merantau, seperti berdagang, menuntut ilmu, berdakwah, dan juga karena adanya keluarga yang sudah lebih dulu tinggal di Jawa. Dari situlah komunitas Banjar mulai terbentuk dan berkembang.
Dalam kondisi tersebut, masjid menjadi tempat berkumpul yang penting. Tidak hanya sebagai akulturasi budaya, artinya proses penggabungan beberpa elemen kebudayaan yang berbeda dan bersatu untuk menciptakan budaya baru tanpa menghapus identitas dari budaya yang sudah ada, (Setyaningsih, n.d.)dua budaya yang berbeda bertemu lalu saling menyesuaikan tanpa menghilangkan ciri khas masing masing. Budaya Banjar tetap terlihat dalam berbagai tradisi yang dijalankan, sementara budaya Jawa hadir sebagai lingkungan yang mempengaruhi cara penyampaian dan pelaksanannya. Budaya baru tidak mudah untuk menyatu dengan budaaya Jawa harus mengalami proses proses akulturasi.(Laili et al., n.d.)
Seiring berjalannya waktu, Masjid Darussalam tidak hanya digunakan oleh komunitas Banjar saja, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Masjid ini berkembang menjadi tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan yang inklusif dan bisa diikuti oleh siapa saja.
Akulturasi dan Adaptasi (Islam dan Jawa)
Dalam perjalanannya, Masjid Darussalam Jayengan menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat Jawa tanpa kehilangan identitas budaya Banjar. Proses adaptasi ini terlihat dari beberapa aspek, terutama dalam praktek dakwah dan kegiatan sosial keagamaan.
Pendekatan dakwah yang digunakan cenderung santun dan membumi, sehingga mudah diterima oleh masyarakat sekitar. Selain itu, kegiatan yang diselenggarakan juga melibatkan warga sekitar, tidak hanya terbatas pada komunitas Banjar. Dalam pelaksanaannya terdapat pula penggabungan nilai nilai lokal selama tidak bertentangan dengan syariat Islam yang menunjukkan adanya keseimbangan antara mempertahankan identitas dan menyesuaikan diri dengaan lingkungan.
Dari segi bahasa, adaptasi juga terlihat cukupjelas. Bahasa Banjar masih digunakan dalam ;ingkup internal atau kegiatan tertentu. Namun, dalam kegiatan yang lebih umum, bahasa Indonesia lebih dominan agar dapat dipahami oleh berbagai kalangan. Tidak jarang pula penggunaan bahasa Jawa disisipkan sebagai bentuk pendekatan kepada masyarakat lokal. Pengguanaann bahasa ini mencerminkan adanya kominikasi yang inklusif dan terbuka.
Hubungan dengan masyarakat sekitar juga terjalin dengan baik. Warga lokal tidak hanya mendukung kegiatan masjid, tetapi juga turu hadir dalam berbagai acara keagamaan. Bahkan, mereka ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti pembagian makanan maupun kerja bakti.
Melalui berbagai bentuk interaksi tersebut, terlihat bahwa akulturasi antara buadaya Banjar dan budaya Jawa berjalan secara harmonis. Perbedaan yang ada tidak menjadi penghalang tetapi justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Penulisan ini didasarkan pada hasil wawancara dengan Bapak Nur Kholis sebagai narasumber utama.
Pesan Keislaman dan Masa Depan
Pesan yang beliau sampaikan melalui Masjid Darussalam Jayengan menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal, termasuk budaya Jawa, dapat berjalan berdampingan tanpa saling menghilangkan. Menurut beliau, menjaga identitas budaya Banjar maupun budaya Jawa tetap penting selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Karena itu, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang mampu merangkul berbagai latar belakang budaya dan masyarakat.
Beliau juga menekankan pentingnya sikap inklusif dalam kehidupan beragama. Hal tersebut terlihat dari bagaimana masyarakat tetap mempertahankan tradisi dan budaya lokal, tetapi tetap mengedepankan ajaran Islam yang universal seperti toleransi, kebersamaan, dan gotong royong. Nilai-nilai tersebut juga banyak ditemukan dalam budaya Jawa yang menjunjung kerukunan serta sikap menghormati sesama.
Opini dan kesinambungan
Dalam kehidupan keagamaan di Masjid Darussalam Jayengan, terlihat bahwa praktik yang berlangsung tidak hanya berfokus pada ibadah semata, tetapi juga mencerminkan adanya proses sosial dan budaya yang berjalan secara dinamis. Interaksi antara masyarakat Banjar dan masyarakat Jawa menghadirkan pola kehidupan keagamaan yang unik, di mana nilai nilai tradisi tetap dipertahankan namun tetap terbuka terhadap penyesuaian dengan lingkungan sekitar.
Saya melihat bahwa keberadaan tradisi seperti Bubur Samin saat Bulan Ramadhan tidak hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi memiliki makna yang lebih dalan sebagai simbol identitas budaya sekaligus sarana mempereratke bersamaan masyarakat. Selain tradisi Bubur Samin, juga terdapat tradisi Haul Datuk Kelampeyan yang masih dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh ulama sekaligus upaya menjaga nilai nilai keagamaan dan budaya yang diwariskan oleh masyarakat Banjar.
Selain itu, keterlibatan masyarakat non- Banjar dalam berbagai kegiatan menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang budaya tidak menjadi penghalang dalam membangun hubungan sosial. Justru, ini memperlihatkan adanya sikap saling menerima, menghargai, dan bekerja sama dalam kehidupan sehari hari. Masjid dalam hal ini tidak ahanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
Dari segi bahasa dan pendekatan dakwah, terlihat adanya upaya untuk menyesuaikan diri agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas. Penggunaan bahasa Indonesia dan sesekali bahasa Jawa, serta pendekatan dakwah yang santun, menunjukkan bahwa proses adaptasi dilakukan secara sadar tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar utama.
Melalui hal tersebut, dapat dipahami bahwa kehidupan keagamaan yang terbentuk bukanlah hasil dari dominasi salah satu budaya, melainkan hasil dari proses penyesuaian yang seimbang. Perbedaan yang ada tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat dilihat bahwa kehidupan keagamaan di Masjid Darussalam Jayengan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan budaya Banjar dan budaya Jawa.
Proses akulturasi terlihat dari cara masyarakat mempertahankan tradisi seperti Bubur Samin, sekaligus mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam berbagai kegiatan menunjukkan adanya hubungan yang terbuka dan harmonis.
Saya melihat bahwa perbedaan budaya yang ada tidak menjadi penghalang, tetapi justru memperkuat kebersamaan dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman yang diterapkan bersifat inklusif dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Daftar Pustaka
Laili, A. N., Gumelar, E. R., Ulfa, H., Sugihartanti, R., & Fajrussalam, H. (n.d.). Akulturasi islam dengan budaya di pulau jawa.
Setyaningsih, R. (n.d.). AKULTURASI BUDAYA JAWA SEBAGAI STRATEGI DAKWAH
(Editor: Gus/Nug) Foto: Istimewa
Lampiran 1


*Masjid Darussalam Jayengan

*Tradisi Haul Datuk Kelampeyan
Lintang Jalu Nugroho Harumkan UIN Surakarta Lewat Prestasi Tenis Meja
Kemarin - Prestasi