
UIN SURAKARTA - Mengangkat tema "Future Skills: Penguatan Keterampilan Lulusan di Era Digital", Wisuda ke-60 UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) yang berlangsung selama 2 hari ini berlangsung dengan khidmat namun penuh kegembiraan. Sebanyak total 1.589 wisudawan mengikuti prosesi pemindahan kuncir topi wisuda dan menerima ijasah tanda telah menyelesaikan program perkuliahan baik di jenjang Strata 1 (Sarjana), Strata 2 (Magister), maupun Strata 3 (Doktor). Pelaksanaan wisuda berlangsung sejak kemarin (Rabu, 12/11/2025) dan hari ini (Kamis, 13/11/2025) di Gedung Graha UIN Surakarta di komplek kampus Pucangan Kartasura.
"Terimakasih atas kehadiran seluruh wisudawan dan para orang tua dalam kegiatan hari ini" ungkap Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Dr. Zainul Abas. Dirinya juga menjelaskan bahwa pada penyelenggaraan hari kemarin, diikuti oleh para wisudawan yang dari program Doktoral, program Magister, dan program Sarjana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) serta Fakultas Ushuluddin dan Dakwah FUD). Sedangkan pelaksanaan wisuda hari ini diikuti oleh para wisudawan Sarjana dari Fakultas Adab dan Bahasa (FAB), Fakultas Ilmu Tarbiyah (FIT), dan Fakultas Syariah (FaSya). "Secara kuantitas, jumlah yang diwisuda hari ini lebih banyak dari kemarin. Ada sejumlah 812 wisudawan di hari ini" lanjut Abas kepada Tim Humas melalui media perpesanan pada Kamis (13/11/2025).
Selama dua hari pelaksanaan wisuda ke-60 UIN Surakarta kali ini, Tim Humas merangkum sambutan dari wakil wisudawan terbaik yaitu Safira Rahmawati dari Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dan Hanna Dorina Riska Saputri dari Prodi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Bahasa (FAB).

Bagi Safira, dirinya mewakili seluruh wisudawan yang hadir mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah… akhirnya sampai juga.” Dirinya menyampaikan bahwa perjalanan mengikuti perkuliahan selama ini bukanlah perjalanan yang pendek. Meski terlintas dalam benaknya untuk menyerah, namun dia tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Berkat keyakinannya bahwa setiap usaha tidak pernah sia-sia, bahwa setiap doa yang dipanjatkan, sekecil apapun, pasti sampai pada waktunya. Kepada seluruh yang hadir, dirinya mengingatkan sebagai anak untuk menoleh ke barisan keluarga yang hadir hari ini, "Ada sosok yang mungkin tidak duduk di barisan depan, tidak banyak bicara, namun matanya paling berbinar melihat kita. Mereka adalah orang tua kita." Para orang tua yang selalu memberikan dukungan kepada anak-anaknya agar tetap bisa bersekolah meski dengan mengurangi keinginan mereka sendiri. Safira yakin bahwa setiap orang memiliki kisah masing-masing terkait hal itu. Gadis 21 tahun anak pedagang rambak ini juga mengatakan tentang pelajaran yang diambil dari bapaknya yaitu bahwa kemuliaan tidak diukur dari jabatan, tetapi dari ketulusan dalam mencari rezeki yang halal. Menutup sambutannya, Safira memberikan sekelumit kalimat untuk dijadikan motivasi bagi semua wisudawan “The future of the Indonesian generation is very much determined by the young generation of this nation, indonesian youth is the future of this nation, therefore every indonesian youth weather they are still student or who have completed their education are important factors there are highly relied upon in realizing the ideals and maintaining the sovereignty of this nation.” (Masa depan generasi Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda bangsa. Para pemuda dan pemudi Indonesia adalah masa depan bangsa ini, oleh sebab itu setiap pemuda dan pemudi apakah mereka masih sebagai pelajar/mahasiswa ataupun yang telah lulus sangat diandalkan dalam mewujudkan cita-cita dan menjaga kedaulatan bangsa ini.) Safira juga mengajak agar seluruh wisudawan yang hadir hari tersebut keluar dari ruangan wisuda dengan kepala tegak, dengan hati yang penuh syukur, dan dengan keyakinan bahwa mereka semua mampu membawa kebermanfaatan untuk sesama, untuk keluarga mereka sendiri, untuk bangsa, dan tentu saja untuk agama mereka.

Sedangkan menurut Hanna yang mewakili wisudawan untuk menyampaikan sambutan di wisuda hari kedua, dirinya mengungkapkan bahwa hari wisuda ini adalah digambarkan seperti berdiri di hadapan sebuah akhir yang indah, namun sekaligus menjadi awal dari petualangan baru. "Jika hidup adalah sebuah misteri, maka perjalanan kita menuntut ilmu ini adalah ibaratnya seperti kisah detektif yang panjang." Hanna bahkan mengibaratkan seluruh wisudawan kali ini seperti Sherlock Holmes yang berusaha memecahkan teka-teki kehidupan, dengan logika, dedikasi, dan rasa ingin tahu yang tiada habisnya. Baginya setiap tugas, ujian, dan malam tanpa tidur adalah petunjuk kecil menuju satu kesimpulan besar. Dia yakin bahwa keberhasilan tidak datang dari kebetulan, melainkan dari kerja keras dan ketekunan yang terus kita diperjuangkan. Hanna mengakui bahwa menjadi “detektif kehidupan” tidaklah berhenti sampai di sini. Dunia di luar sana adalah kasus baru yang menanti untuk diselidiki. Menurutnya kan ada kebingungan, kegagalan, dan mungkin juga kehilangan arah. Tapi seperti kata Holmes, “The world is full of obvious things which nobody by any chance ever observes” (Dunia ini pernuh dengan kejelasan di mana tidak seorangpun dengan adanya perubahan pernah mengamatinya). Maka tugas kita adalah tetap peka, tetap berpikir kritis, dan tetap berani mengambil langkah meski dunia tampak penuh misteri. Hanna juga mengajak agar para wisudawan menghadapi misteri-misteri di level yang akan datang, dan selalu yakin dapat menyelesaikannya karena menurutnya semua orang adalah tokoh utama dalam kehidupannya masingmasing. “Courage, dear heart” sebuah kutipan dari C.S. Lewis yang sejak kecil selalu menguatkannya dalam menghadapi berbagai hal. Kalimat sederhana tersebut selalu mengingatkannya bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah meski rasa takut itu ada. "Semoga kita semua terus membawa keberanian itu dalam setiap langkah menuju masa depan, menghadapi setiap tantangan dengan hati yang teguh dan penuh harapan" pungkasnya. (Tris/Humas) Foto : Mastr/Zaki/Nug/Angga