
UIN SURAKARTA – Seminar internasional kembali digelar oleh Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) dalam rangka mempertajam atmosfer akademik di lingkungan kampus. Kali ini, UIN Surakarta menggelar International Conferences on Islam and Society 2025 (ICIS 2025) yang dipanitiai oleh Fakultas Ushuluddin Dakwah (FUD). Acara ini mengangkat tema “Optimizing the Use of Artificial Intelligence in Islamic Studies at Higher Education Institutions” di Aula Lt. 4 Gedung Fakultas Adab dan Bahasa (FAB) pada Kamis (16/10/2025). Kegiatan ini merupakan wadah yang mempertemukan antara peneliti, dosen, dan akademisi dari berbagai negara.
Nantinya, konferensi ini diperkirakan akan diikuti oleh 80 penulis dari empat negara, yaitu Indonesia, Pakistan, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Mereka akan bertindak sebagai presenter untuk menyampaikan pemikiran mereka tentang perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dikaitkan dengan studi Islam dan dunia dakwah. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor I (WR I) Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Zainul Abas. Dalam sambutannya, WR I menyampaikan bahwa teknologi memang sudah berkembang dengan pesat saat ini. Oleh karena itu, para peserta harus mampu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari perkembangan teknologi AI ini.

“Perkembangan teknologi di dunia ini sangat cepat, terutama yang berkaitan dengan teknologi AI. Bahkan, teknologi AI saat ini sudah mempengaruhi dunia pendidikan, termasuk pendidikan dakwah. Oleh karena itu, kita perlu untuk terus mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya,” ucap Dr. Abas.
Selain itu, WR I juga menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis apabila menggunakan Ai dalam dunia pendidikan. Dengan menguasai kemampuan berpikir kritis, bahasa, dan etika, seluruh sivitas akademika bisa memanfaatkan AI dengan baik, terutama dalam hal publikasi ilmiah dan kegiatan akademik lainnya. “Kemampuan berpikir kritis ini sangat penting bagi kita untuk memanfaatkan AI di dunia akademik. Oleh karena itu, selain menguasai teknologi dan penggunaannya di dunia pendidikan, kita harus menguasai kemampuan critical thinking, bahasa, dan etika. Dengan demikian, AI ini bisa dimaksimalkan untuk kepentingan pendidikan,” ucapnya.
Selain 80 presenter dari 4 negara, ada empat pembicara utama yang ikut meramaikan ICIS 2025, yaitu Prof. Arif Maftuhin dari Yogyakarta, Khodijah Khulliyah, Ph.D. dari Jakarta, serta Sakinah Abdul Samad dari International Islamic University Malaysia (IIUM), dan Muhammad Syafiq bin Rozian dari IES Research Malaysia. (Zaki/Humas) Foto: Groho