
UIN SURAKARTA – Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) kembali menggelar acara level internasional. Kali ini, acara yang digelar bertajuk International Conference on Islamic Studies and Educational Research (ICISER) 2025. Ini adalah kedua kalinya UIN Surakarta menggelar acara ICISER 2025. Pada tahun ini, ICISER mengangkat tema “Decolonial Studies and Postcolonial Piety: Digital Islam, Education, Local Tradition, and Global Discourse”. Acara pembukaan ICISER 2025 dilaksanakan pada Selasa (4/11/2025) di Aula Kampus Pascasarjana UIN Surakarta, Pakis, Klaten. Seremonial pembukaan ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan (WR I), Dr. Zainul Abas.
Tidak hanya bertindak sebagai pembuka acara, Dr. Abas ikut memberikan sedikit sambutan kepada seluruh peserta yang paper-nya sudah terpilih untuk dipresentasikan pada ICISER 2025. Dalam sambutannya, Dr. Abas sedikit menyoroti tentang perkembangan studi Islam yang dari zaman ke zaman semakin berkembang. Ia juga sempat menyebutkan bahwa dalam proses penelitian, khususnya bidang studi Islam, harus mempertimbangkan berbagai aspek filosofis, baik itu epistemologi, aksiologi, dan ontologi.
“Perkembangan tentang studi Islam ini dari waktu ke waktu semakin berkembang. Saya menyebutnya saat ini sedang adanya paradigm shifting atau pergeseran paradigma. Kalau dalam dunia filsafat itu, adanya pertimbangan epistemologi, ontologi, maupun aksiologi dalam melakukan penelitian seperti ini,” ucap WR I.

Ia juga menyoroti tentang pentingnya harmoni antara alam, manusia, dan Tuhan. Hal ini perlu ditekankan dalam berbagai penelitian keislaman. Terlebih lagi, program ekoteologi yang ada dalam Asta Protas Kementerian Agama Republik Indonesia saat ini sudah mempertimbangkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Oleh karena itu, kegiatan semacam ICISER 2025 ini diharapkan mampu memberikan dampak dan kontribusi di bidang tersebut.
“Penelitian-penelitian yang ada saat ini juga sudah mulai mempertimbangkan adanya harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Hal seperti ini kan sebenarnya sama seperti apa yang dilakukan oleh Kemenag. Lalu, penelitian-penelitian yang hanya antroposentrik bisa lebih kita kurangi, sehingga tidak hanya berpusat pada manusianya saja, tetapi juga memikirkan bagaimana alam bekerja. Semoga kegiatan ini bisa mendukung sektor itu,” pungkasnya. Dalam kegiatan ICISER 2025 ini, antusiasme para peneliti sangatlah besar, terbukti adanya 350 tulisan yang masuk. Meski begitu tidak semua tulisan bisa dipresentasikan, hanya 90 presenter yang diminta untuk menyajikan paper mereka pada kegiatan ini. (Zaki/3S/Humas) Foto: Mastr/Zaki