Loading...

Tentang Tayangan TV Viral, Begini Respon Rektor UIN Surakarta

15 Oktober 2025 10:09 WIB 238
Baca

UIN SURAKARTA - Tayangan dari salah satu TV swasta beberapa hari yang lalu menjadi viral dan mengundang banyak sekali respon dari masyarakat dan banyak tokoh. Tayangan yang berisikan narasi yang seolah menggiring opini negatif dunia pesantren tersebut tak urung menimbulkan gejolak di kalangan pesantren yang berujung pada adanya gelombang protes, apalagi dalam tayangan tersebut menampilkan sosok ulama pesantren terkenal yang diakui reputasinya.

"Bagaimanapun juga, kita ini adalah santri yang menempuh sanad keilmuan agama melalui pesantren dan sangat menghormati para ulama yang bahkan disebutkan dalam hadits bahwa ulama itu adalah pewaris ilmu para nabi" ungkap Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) Prof. Toto Suharto sesaat setelah memberikan sambutan pada kegiatan monitoring dan evaluasi kerjasama kampus dengan pihak luar di Ruang Sidang Utama Lt. 1 Gedung Rektorat UIN Surakarta kampus Pucangan Kartasura pagi ini (Rabu, 15/10/2025). Rektor sangat menyayangkan tentang apa yang ditayangkan oleh stasiun TV swasta tersebut dan menyebutnya sebagai framing negatif terhadap dunia pesantren dan para ulama, "Sangat disayangkan tayangan tersebut tidak memberikan narasi yang jelas, tapi justru membuat framing negatif kepada pesantren dan kyai-nya." Namun demikian Prof. Toto tetap mengajak semua pihak agar isu ini tidak menjadi bola liar yang akan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam dan bangsa Indonesia meskipun sudah ada permintaan maaf dari pihak stasiun TV yang bersangkutan. "Sebagai bagian dari Kementerian Agama RI, kami tetap merujuk pada arahan dari Menteri Agama RI Prof. Nasaruddin Umar" tambahnya.

Menanggapi isu pesantren yang viral, Menteri Agama RI Prof. Nasruddin Umar di Jakarta pagi ini, meminta semua pihak untuk menjaga marwah pondok pesantren dan menghindari narasi yang bersifat stigma. Ia menegaskan, pesantren telah berabad-abad menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban bangsa Indonesia. Menag menegaskan, pesantren adalah benteng moral bangsa yang telah melahirkan generasi ulama, pemimpin, dan tokoh nasional. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk memahami pesantren secara utuh dan kultural. “Saya merasa sangat kaget dan prihatin dengan pemberitaan yang menempatkan pesantren secara negatif. Sekian ratus tahun pondok pesantren berkiprah mendidik manusia Indonesia agar menjadi masyarakat yang beradab, hingga mengkristal dalam nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.” “Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi pusat pembentukan moral, karakter, dan kemanusiaan. Mari bersama menjaga marwahnya,” sambungnya.

Pernyataan Menag tersebut disampaikan sebagai respons atas tayangan salah satu program Trans Media yang dinilai menyinggung kehidupan santri. Tayangan itu memuat narasi satir, di antaranya menyebut bahwa “santri minum susu saja harus jongkok.” Potongan tayangan tersebut menuai kritik luas karena dianggap melecehkan tradisi kesantunan pesantren dan merendahkan penghormatan santri kepada kiai. Gelombang protes datang dari masyarakat dan komunitas pesantren, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo, yang mendesak pihak stasiun televisi menarik tayangan, menyampaikan permintaan maaf terbuka, serta melakukan klarifikasi langsung kepada para pengasuh pesantren. Pihak Trans Media juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik dan kepada para Kiai Pesantren Lirboyo. Menurut Menag, tradisi memaafkan yang kuat dalam budaya pesantren. Menag yakin para kiai dan santri juga akan memaafkan. “Ya, saya kira itu yang sangat penting buat kita. Mudah-mudahan ini pembelajaran buat kita semuanya,” ungkapnya.

Menag menyampaikan bahwa dirinya hari ini juga akan bertolak ke Jawa Timur untuk bersilaturahmi dengan sejumlah pondok pesantren. “Saya hari ini akan ke Jawa Timur juga untuk bertemu dengan beberapa pondok pesantren,” pungkasnya. Lebih lanjut, Menag menuturkan pondok pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan keadaban sosial. Jasa pondok pesantren bagi negeri juga tidak dapat disepelekan. Sejak ratusan tahun lalu, pesantren berperan besar dalam membentuk masyarakat Indonesia yang santun, taat, dan beradab. Kepercayaan masyarakat terhadap pesantren juga semakin meningkat. 

“Kalau mata hati kita melihat, apa yang terjadi di pondok pesantren sekarang ini justru hal yang berkebalikan dari citra negatif. Ada peningkatan yang sangat tajam, orang memasukkan anaknya ke pondok pesantren,” sebutnya. “Tradisi pesantren mengajarkan kesantunan murid kepada kiai. Dari situ lahir budaya hormat anak kepada orang tua, yang kemudian berimbas pada rakyat yang berbakti kepada pemimpinnya,” jelasnya. Menag juga menambahkan, keseimbangan antara rakyat yang santun dan pemimpin yang berwibawa merupakan cerminan nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren. “Di mana ada rakyat yang santun, di sana biasanya ada pemimpin yang berwibawa. Dan di mana ada pemimpin yang berwibawa, di sana ada rakyat yang santun. Suasana kebatinan seperti inilah yang dibentuk oleh pondok pesantren.” (Tris/Humas) Foto : Mastr/Humas