
UIN SURAKARTA – Bulan Ramadhan tidak terasa sudah akan segera berakhir. Setelah ini, seluruh umat Islam di Indonesia akan segera merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 H. Namun, seperti yang terjadi pada umumnya di Indonesia. Terkadang, ada perbedaan dalam menentukan kapan 1 Syawal akan berlangsung. Perbedaan ini memang tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat luas, tetapi sering menjadi perdebatan di berbagai kesempatan oleh banyak pihak. Diskusi soal potensi perbedaan 1 Syawal tahun ini, sivitas akademika Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) turut memberikan pandangannya.
Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Dr. H. Musta’in Ahmad, menyampaikan bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan merupakan fitrah yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai ujian sekaligus hikmah bagi seluruh manusia, khususnya umat Islam. Ia berharap agar adanya potensi perbedaan 1 Syawal tahun ini menjadi momen untuk memperkuat harmoni dalam internal umat Islam di Indonesia.

“Perbedaan itu adalah sebuah hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah fitrah yang diciptakan oleh Allah SWT ketika menurunkan manusia ke bumi. Justru perbedaan inilah yang menjadikan kehidupan di dunia semakin indah. Momen Idulfitri tahun ini semoga bisa menjadi momen untuk memperkuat harmoni dalam internal umat Islam di Indonesia,” ucap Musta’in.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Bagian Umum dan Akademik, Biro Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Hj. Fauziyah Dlimasari, M.H. Ia berharap agar Lebaran tahun ini menjadi ajang yang fokus pada saling memaafkan dan menebarkan kedamaian. Fauziyah menekankan bahwa perbedaan apa pun yang nanti terjadi di masyarakat tidak menimbulkan perpecahan maupun perselisihan yang bisa membuat suasana menjadi tidak sejalan dengan tujuan utama perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H.

“Apa pun perbedaan yang nanti terjadi di masyarakat, semoga tidak menimbulkan perpecahan maupun perselisihan yang membuat suasana Idulfitri tahun ini menjadi tidak sejalan dengan tujuan utamanya. Momen Lebaran itu adalah merupakan momen untuk saling memaafkan dan menebarkan kedamaian. Semoga sivitas akademika UIN Surakarta bisa menjadi teladan di masyarakat dalam menyikapi perbedaan ini,” ujarnya.
Pada tahun ini, meski belum digelar Sidang Isbat, banyak pihak yang memprediksi bahwa akan terjadi perbedaan dalam penentuan 1 Syawal. Sebagian pihak ada yang sudah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 mendatang. Sementara itu, beberapa prediksi juga menyampaikan bahwa 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 berdasarkan kriteria imkan rukyat yang disepakati negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam Indonesia Malaysia Singapura). Meski demikian, penentuan 1 Syawal 1447 H masih menunggu keputusan resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia. (Editor: Zaki) Foto: Zaki/Mastr/Ded/Dand/Ang/Nug