Loading...

SARIRA 2025 Ditutup, UIN Surakarta Fokus Scopus dan Ekoteologi

28 Agustus 2025 13:39 WIB 251
Baca

UIN SURAKARTA – Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) akhirnya telah melaksanakan acara Said Annual Roundtable on Indonesia and Religious Affairs (SARIRA) 2025 dengan lancar. Acara ini ditutup pada Kamis (28/8/2025) di Ruang Teater Gedung SBSN Lantai 2. Acara dengan tajuk “Religion and Ecology for Sustainable Development” ini menghadirkan sejumlah pemateri yang membahas mengenai  ekologi, teologi, dan kemanusiaan. Mereka adalah Dr. Zainul Abas, Dr. Haryani Saptaningtyas, Dr. Reza Shaker Ardekani dari Leiden University, Belanda, Faried F. Saenong, PhD., yang merupakan Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Anna M. Gade dari Wisconsin University, Dr. Myrna Asnawati Safitri yang merupakan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), serta Prof. Jiehong Lou dari University of Maryland.

Sambutan penutupan SARIRA 2025 diwakili oleh Wakil Rektor I (WR I) Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Zainul Abas. Dalam sambutannya, Dr. Abas mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembicara dan peserta yang telah mengikuti acara ini. Ia berharap acara ini bisa melahirkan penelitian dan jurnal ilmiah yang nantinya bisa tembus ke Scopus. Dengan demikian, publikasi ilmiah tentang ekoteologi di kancah internasional semakin banyak. “Semoga paper Bapak dan Ibu di sini bisa diproses lebih lanjut. Sehingga nantinya, bisa tembus ke Scopus untuk memperkaya khazanah ekoteologi dalam Islam di kancah internasional,” ucapnya.

Selain itu, Dr. Abas juga merangkum sedikit tentang apa yang menjadi fokus bahasan selama dua hari di SARIRA 2025. WR I menyoroti tema yang banyak diangkat adalah mengenai harmoni antara manusia dan alam. Pembahasan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran terhadap konsep ekoteologi yang dicanangkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Nasaruddin Umar. Dengan demikian, umat Islam tidak hanya fokus pada teologi saja, tetapi juga peduli dengan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

“Jika saya boleh merangkum, maka SARIRA 2025 kali ini membahas mengenai harmoni antara alam dan manusia. Kita perlu mewujudkan harmoni ini lewat kesadaran ekoteologi, seperti apa yang disampaikan oleh Stafsus Menag RI kemarin. Kita sebagai manusia harus benar-benar menjaga alam, bukan malah fokus mengeksploitasinya,” jelas Dr. Abas. Rencananya, acara SARIRA akan digelar tiap tahun. (Zaki/3S/Humas) Foto: Mastr