Loading...

SARIRA 2025 Dimulai, Rektor UIN Surakarta Tekankan Ekoteologi

27 Agustus 2025 11:42 WIB 173
Baca

UIN SURAKARTA – Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) kembali menggelar acara bergengsi dalam rangkaian Dies Natalis ke-33. Kali ini, acara yang digelar adalah Said Annual Roundtable on Indonesia and Religious Affairs (SARIRA) 2025. Tahun ini merupakan edisi pertama UIN Surakarta menggelar SARIRA. Pembukaan SARIRA 2025 diadakan di Ruang Teater Gedung SBSN Lantai 2 pada Rabu (27/8/2025). Nantinya, SARIRA akan digelar selama 2 hari hingga Kamis (28/8/2025). Untuk hari pertama, ada 4 pembicara yang akan memaparkan materi mereka, yaitu Dr. Zainul Abas, Dr. Haryani Saptaningtyas, Dr. Reza Shaker Ardekani dari Leiden University, Belanda, dan Faried F. Saenong, PhD., yang merupakan Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia.

Pada acara pembukaan ini, Rektor UIN Surakarta, Prof. H. Toto Suharto, ikut memberikan sedikit materi untuk menyambut kedatangan peserta dan pembicara sekaligus membuka kegiatan yang digelar untuk pertama kalinya ini. Dalam sambutannya, Rektor menekankan makna SARIRA yang terinspirasi dari Tri Dharma Raden Mas Said. Kata “Sarira” sendiri berasal dari dharma pertama, yaitu Mulat Sarira Hangrasa Wani, yang berarti mawas diri dan berani dalam hal yang benar. Dari dharma inilah, kata SARIRA dipilih untuk menjadi nama acara ini.

“Istilah SARIRA diambil dari salah satu dharma dari Tri Dharma Raden Mas Said. Ada tiga dharma Raden Mas Said. Yang pertama, mulat sarira hangrasa wani, yang berarti mawas diri dan berani dalam hal yang benar, yang secara kontekstual berarti Potensi Diri Indonesia. Kedua, rumangsa melu handarbeni, yang berarti merasa ikut memiliki, yaitu memiliki Indonesia, dan melu hangrungkebi, yang berarti wajib ikut membela, maksudnya membela Indonesia. UIN Surakarta hanya mengambil satu terma, tapi maksudnya adalah keseluruhan tri dharma,” jelas Prof. H. Toto.

Dalam acara yang bertajuk “Religion and Ecology for Sustainable Development” ini, Rektor berharap agar SARIRA menjadi sarana untuk mengkaji ulang hubungan antara agama dan ekologi. Terlebih lagi, konsep ekoteologi saat ini tengah digagas dan digencarkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar. Nantinya, acara ini diharapkan mampu menjadi motor penggerak untuk menghasilkan publikasi ilmiah terkait ekoteologi yang dalam 25 tahun terakhir hanya ada 12 paper.

“Tema SARIRA kali ini semoga menjadi bahan perenungan ilmiah bersama, untuk melakukan kajian ulang mengenai relasi Islam dan isu ekologi, yang kini menjadi salah satu agenda utama Kementerian Agama, sebagaimana digagas oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. selaku Menteri Agama,” ucap Prof. H. Toto. (Zaki/Humas) Foto: Zaki