Loading...

Rektor UIN Surakarta: Perbedaan Awal Lebaran Harus Disambut dengan Damai

19 Maret 2026 08:47 WIB 166
Baca

UIN SURAKARTA – Hari Raya Idulfitri 1447 H menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di Indonesia. Perayaan ini merupakan momen puncak perjuangan setelah berusaha untuk menahan diri dan nafsu sepanjang bulan Ramadhan. Meski demikian, tidak jarang terjadi perbedaan penentuan hari pertama Lebaran di Indonesia. Hal itu pun diprediksi akan terjadi pula pada tahun ini. Sebagian pihak ada yang sudah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 mendatang. Sementara itu, beberapa prediksi juga menyampaikan bahwa 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 berdasarkan kriteria imkan rukyat yang disepakati negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam Indonesia Malaysia Singapura).

Menyikapi hal ini, Rektor Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta), Prof. H. Toto Suharto, menyampaikan pandangannya. Dalam pernyataannya saat dihubungi oleh Tim Humas UIN Surakarta pada Rabu (18/3/2026) via pesan singkat, Rektor menghimbau agar perayaan Idulfitri tahun ini mengedepankan harmoni dan damai. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia (Menag), Prof. KH. Nasaruddin Umar. Rektor juga berharap agar fokus Lebaran tahun ini adalah menyucikan hati.

“Perbedaan hari pertama Lebaran nantinya diharapkan tidak akan menjadi masalah yang dibesar-besarkan. Justru momen ini harus  dihadapi dengan penuh damai dan harmoni seperti yang sudah disampaikan oleh Menag. Fokus Lebaran tahun ini adalah menyucikan hati dengan saling bermaaf-maafan agar kita kembali ke suasana damai layaknya fitrah manusia yang hadir dalam keadaan suci,” ucap Prof. H. Toto.

Ia juga mengajak kepada seluruh sivitas akademika UIN Surakarta untuk menjadi teladan bagi masyarakat luas dalam menyikapi perbedaan ini. Rektor berharap agar seluruh sivitas akademika mampu menunjukkan sikap bijak dalam menyambut potensi perbedaan 1 Syawal tahun ini. “Saya harap seluruh sivitas akademika mampu menyikapi ini dengan bijak. Kita harus menjadi teladan bagi masyarakat luas,” lanjutnya.

Selain itu, Rektor menghimbau  terkait keputusan kapan 1 Syawal jangan menjadi perdebatan panjang yang malah menimbulkan perpecahan di masyarakat. Penentuan awal Syawal 1447 H di Indonesia tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI dengan mempertimbangkan data hisab serta laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan. Masyarakat diharapkan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah. Adapun jika terjadi perbedaan nanti, maka masyarakat harus bisa menerimanya dengan lapang dada dalam harmoni dan damai.

“Perbedaan yang masih sebatas prediksi ini jangan sampai menjadi perdebatan panjang di tengah situasi kita yang masih berpuasa. Penentuan awal Syawal 1447 H di Indonesia tetap menunggu keputusan sidang isbat. Kalaupun nanti ada perbedaan dari hasil sidang isbat yang sudah ditetapkan, maka kita semua harus bisa menyikapinya dengan lapang dada dalam harmoni dan damai,” pungkas Rektor. (Editor: Zaki) Foto: Zaki/Mastr