Loading...

PUSKOHIS & Bidang Tafsir JQH UIN Surakarta Lahirkan Mahasiswa Kader Penggerak Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

24 November 2025 11:11 WIB 142
Baca

UIN SURAKARTA- Senin, 24 November 2025, Masjid Ibadurrohman Univesitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta berubah menjadi pusat pertemuan ide dan gagasan. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas datang bukan sekadar untuk mengaji, tetapi untuk memahami ulang makna nasionalisme melalui kacamata Al-Qur’an dan Sunnah. Di hadapan mereka, Dosen Ilmu Hukum Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, sekaligus Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (PUSKOHIS) Fakultas Syariah, memandu sebuah kajian tafsir yang semakin hari semakin dikenal sebagai rujukan akademik dalam memahami cinta tanah air dalam Islam.

Kajian yang digelar oleh Bidang Tafsir JQH bersama Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (PUSKOHIS) Fakultas Syariah UIN Surakarta ini bukan pengajian biasa. Dengan lebih dari 50 kitab tafsir sebagai rujukan utama mulai dari Tafsir Al-Tabari, Tafsir Al-Qurtubi, Mafatih Al-Ghaib karya Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Ibn Katsir, Ruhul Bayan, Tafsir Al-Maraghi, Tafsir Ibn ‘Ashur, hingga Tafsir Al-Munir dan Al-Wadlih Gus Mustain menghadirkan atmosfer akademik yang kaya argumentasi, mendalam, dan tetap mudah dicerna oleh mahasiswa.

Dari awal, ia menegaskan bahwa nasionalisme bukanlah konsep yang asing. Bukan pula konsep impor yang diambil dari negara lain. Dalam Islam, kata Gus Mustain, nasionalisme cinta tanah air adalah fitrah manusia yang diakui dan dibimbing oleh wahyu. Untuk membuktikannya, ia mengajak para mahasiswa menyelam ke dalam lautan tafsir klasik dan modern. Ia memulai dari QS. Al-Qashash ayat 85, ayat yang oleh banyak mufassir ditafsirkan sebagai janji Allah bahwa Nabi Muhammad SAW akan kembali ke tanah kelahirannya, Makkah. Dari Mafatih Al-Ghaib, Ruh al-Ma’ani, hingga Ruhul Bayan, para ulama menegaskan poin yang sama: rindu kepada tanah air adalah bagian dari iman. Syekh Ismail Haqqi secara tegas menyebutnya sebagai isyarat bahwa “cinta tanah air adalah sebagian dari iman,” sebuah frase yang kemudian menjadi pijakan banyak ulama setelahnya. Kajian semakin hidup ketika Gus Mustain mengutip QS. An-Nisa’ ayat 66, ayat yang oleh Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir dan Al-Wasith dijelaskan sebagai gambaran betapa kuatnya keterikatan manusia dengan tanah airnya. Wahbah menuliskan bahwa perintah “keluarlah dari kampung halaman kalian” memiliki makna berat, seperti perintah “bunuhlah diri kalian.” Dua hal yang disandingkan menunjukkan satu hal: betapa berharganya tanah air bagi manusia. Penafsiran ini kembali ditegaskan oleh ulama seperti Al-Baghawi, Ibn Katsir, dan Ibn ‘Ashur.

Tidak berhenti di situ, Gus Mustain memperluas cakupan kajian dengan QS. At-Taubah ayat 122, yang oleh mufassir kontemporer seperti Syekh Muhammad Mahmud Al-Hijazi dipahami sebagai ayat yang menegaskan bahwa membela tanah air adalah kewajiban suci dilakukan baik dengan pedang maupun dengan ilmu pengetahuan. Al-Hijazi bahkan menyatakan bahwa menanamkan nasionalisme dan semangat berkorban dalam diri umat adalah fondasi utama bangunan sebuah bangsa. Tanpa itu, kata beliau, kemerdekaan hanya menjadi slogan kosong. Puncak kajian tiba ketika Gus Mustain membawa para mahasiswa pada dalil cinta tanah air dalam hadis. Ia membacakan riwayat Anas bin Malik tentang Nabi SAW yang mempercepat laju untanya ketika melihat dinding-dinding Madinah sepulang dari perjalanan jauh. Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam Fathul Bari, Al-Aini dalam Umdatul Qari, Imam Suyuthi dalam Al-Tausyih, dan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi sama-sama menegaskan: hadis ini menjadi dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya. Gus Mustain juga mengutip riwayat mengenai Waraqah bin Naufal, yang oleh Abu Syamah dan Al-Iraqi dipahami sebagai bukti bahwa meninggalkan tanah air adalah hal yang sangat berat bagi jiwa sebuah respon manusiawi yang dibenarkan Islam.

Seluruh rangkaian penjelasan itu membuat mahasiswa larut dalam suasana belajar. Ada yang mengangguk-angguk, ada yang sibuk mencatat cepat, dan ada yang mulai melihat nasionalisme dari sudut pandang yang sama sekali baru. Bukan sekadar cinta negara, tetapi perintah iman yang memiliki dasar kuat dalam teks wahyu. Ketua Bidang Tafsir JQH, Syahna Adityas Prasetyo, yang turut hadir, menyampaikan kesan mendalam. Menurutnya, kajian ini bukan hanya membentuk keilmuan mahasiswa, tetapi membangun karakter kebangsaan yang selama ini sering terlewat dalam kurikulum formal. “Kami belajar bahwa mencintai Indonesia bukan hanya tugas warga negara, tetapi ibadah. Kami pulang dari kajian dengan hati yang lebih penuh dan perspektif yang lebih kaya,” ujarnya.

Kajian ini menjadi bukti bahwa kampus tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Melalui pendekatan ilmiah dan keagamaan sekaligus, mahasiswa UIN Surakarta dibentuk menjadi generasi Qur’ani yang memahami bangsanya, mencintai tanah airnya, dan siap menjadi penggerak perubahan. Dengan kajian semacam ini, UIN Surakarta tidak hanya melahirkan sarjana tetapi melahirkan kader bangsa. Kader yang mencintai negeri berdasarkan ilmu, iman, dan ketulusan. Senin, 24 November 2025. (Nug/ Humas) Foto: Istimewa

#banggauinsaidsurakarta
Instagram: @uin.surakarta
Tiktok: @uinsurakarta
Youtube: @uinsurakarta
X: @uinsurakarta