Loading...

Lakukan Kuliah Pakar, Prodi PIAUD FIT UIN Surakarta Angkat Tema Pengasuhan ABK di Sekolah

3 November 2025 15:20 WIB 210
Baca

UIN SURAKARTA - Konsep memahamkan semua pihak dalam perihal pemberian perhatian kepada anak yang berkebutuhan khusus, tidak hanya digencarkan oleh kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) saja, akan tetapi juga dilakukan oleh kalangan kampus, khususnya UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta). Sebagai satu-satunya perguruan tinggi keagamaan Islam di wilayah Solo raya, UIN Surakarta memberikan perhatian khusus pada hal tersebut. 

Bertempat di Aula PPG UIN Surakarta komplek kampus Pucangan Kartasura, pagi ini dibuka acara Kuliah Pakar dengan mengambil tema Pengasushan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah. Kegiatan yang diinisiasi oleh Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Ilmu Tarbiyah ini diikuti oleh para mahasiswa dan jajaran Prodi. Menggandeng narasumber seorang fisioterapis dan juga founder salah satu LSM di wilayah Boyolali, acara yang berlangsung sehari ini menuai kesuksesan dari jumlah antusiasme pesertanya. Lebih dari 100 peserta yang terdiri dari para mahasiswa di berbagai semester yang ada. 

Ketua Prodi PIAUD, Tri Utami, M.Pd. dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini adalah salah satu implementasi komitmen kampus dalam memberikan perhatian khusus kepada para calon pendidik anak usia dini agar lebih concern dalam menanamkan nilai-nilai kepedulian dan inklusivitas kepada mereka. Kegiatan ini juga dalam rangka membuka cakrawala berpikir dan memperdalam pemahaman tentang bagaimana mengasuh, membimbing, serta menciptakan lingkungan sekolah yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus sejak usia dini. "Pengasuhan yang tepat tidak hanya membantu perkembangan anak, tetapi juga menumbuhkan budaya inklusi yang sejati di dunia pendidikan khususnya di Indonesia" ujar Tri. Dirinya juga mengajak seluruh mahasiswa untuk mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh, mencatat setiap ilmu yang dibagikan oleh narasumber, dan merefleksikannya dalam praktik nyata di lapangan. "Masa depan pendidikan inklusif di Indonesia berada di tangan para pendidik muda seperti kalian,” tambahnya.

Narasumber, Intan Herlinawati, dalam paparannya menjelaskan bahwa pengasuhan anak berkebutuhan khusus tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia menegaskan bahwa setiap anak memerlukan dukungan dari banyak pihak yang bekerja secara terpadu. Intan menegaskan bahwa pengasuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) bukan hanya urusan keluarga atau sekolah semata, tetapi merupakan tanggung jawab kolaboratif berbagai pihak. Seorang anak tidak bisa tumbuh optimal hanya dengan satu bentuk dukungan. Ia memerlukan lingkungan yang memahami, mendampingi, dan menstimulasi setiap aspek tumbuh kembangnya secara menyeluruh dan berkelanjutan. Ia juga mencontohkan pentingnya sinergi lintas profesi dalam pendampingan ABK. Keberhasilan pendampingan ABK bergantung pada sinergi tim lintas profesi mulai dari dokter anak, perawat, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, psikolog anak, hingga guru PAUD. Ketika semua elemen ini bekerja bersama, bukan hanya anak yang mendapatkan manfaatnya, tetapi juga keluarga dan sekolah akan merasakan perubahan besar dalam cara mereka memahami anak. 

Salah satu pemerhati masalah anak yang sekaligus juga dosen UIN Surakarta, Dr. Khasan Ubaidillah memberikan komentarnya tentang pengasuhan yang tepat bukan sekadar pemberian terapi, tetapi menciptakan lingkungan yang inklusif, konsisten, dan penuh empati. Berkaca dari pengalamannya selama ini, dirinya mengajak semua orang yang peduli pada dunia pendidikan anak agar pendampingan yang dilakukan kepada ABK haruslah berorientasi pada potensi anak. Oleh karenanya, apa yang dilakukan oleh para guru dan orang tua yang mendampingi para ABK bukan hanya sekedar menolong anak agar mampu mengejar ketertinggalan saja, namun juga membantu mereka menemukan kekuatan dan potensinya sendiri. Khasan mengajak pada semua orang bahwa setiap tindakan kecil dari semua pihak bisa dapat menjadi langkah besar dalam perjalanan tumbuh kembang anak. Ia juga menegaskan pengasuhan bukan sekadar tanggung jawab, tetapi panggilan kemanusiaan yang menghidupkan nilai-nilai empati, ilmu, dan cinta dalam pendidikan. (Tris/Humas)