Loading...

Kesan Direktur Diktis Kemenag RI Tentang UIN Surakarta

21 November 2025 22:35 WIB 153
Baca

UIN SURAKARTA – Univeristias Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) menggelar kegiatan selama tiga hari di Yogyakarta dalam rangka kegiatan Pengembangan Perumusan Paradigma Glokalisasi dan LURIK. Kegiatan ini berlangsung mulai Jumat (21/11/2025) hingga Minggu (23/11/2025). Adapun peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah jajaran pimpinan rektorat dan fakultas, dosen, serta tenaga kependidikan di lingkungan UIN Surakarta. Tidak hanya itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Prof. Phil. Sahiron, ikut hadir dalam kegiatan ini.

Prof. Sahiron hadir sebagai salah satu pembicara sekaligus menyampaikan kesannya soal UIN Surakarta. Ia merasa senang bahwa UIN Surakarta memiliki manajemen yang berjalan dengan baik serta kegiatan akademik yang mampu berjalan dengan lancar. “Alhamdulillah, sampai detik ini, saya sering main ke Solo. Saya lihat UIN Surakarta memiliki manajemen yang baik. Kegiatan akademik yang ada di kampus berjalan dengan lancar. Semoga ini terus berlanjut,” ucapnya.

Selain itu, Prof. Sahiron juga sempat menyinggung perkembangan UIN Surakarta sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Ia menilai bahwa UIN Surakarta memang sudah layak untuk melakukan remunerasi karena sebagai BLU sudah sangat berkembang. Oleh karena itu, Prof. Sahiron menghimbau agar UIN Surakarta bisa sebagai menerapkan remunerasi ke depannya. Sosok yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas BLU itu ikut mengingatkan bahwa UIN Surakarta harus terus berupaya melakukan manajemen keuangan dan pendapatan yang baik. Dengan demikian, pemasukan kampus untuk memenuhi status BLU dan menerapkan remunerasi bisa berjalan baik.

“UIN Surakarta saat ini bisa dibilang sudah berkembang dengan sangat baik sebagai BLU. Oleh karena itu, saya rasa UIN Surakarta sudah sangat siap untuk menerapkan remunerasi ke depannya. Namun, ada yang perlu diingat bahwa manajemen penghasilan atau pendapatan harus benar-benar diperhatikan. Hal ini nantinya akan berhubungan dengan bagaimana penerapan remunerasi berjalan dengan lancar. Berbagai lini bisnis mungkin bisa dicoba, terutama yang berkaitan dengan kompetensi dan pendidikan,” jelas Prof. Sahiron. (Zaki/3S/Humas) Foto: Groho/Mastr