UIN SURAKARTA- DEMA UIN Raden Mas Said Surakarta resmi gelar acara Dialog Kebudayaan dengan tema “Kaleidoskop Budaya: Merayakan Identitas Raden Mas Said dalam Dialog”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami identitas budaya, sejarah lokal, sekaligus nilai-nilai keislaman yang mengakar pada figur Raden Mas Said. Acara ini dipandu oleh Sindi Berliana Rahmawati, S.Sos., alumni UIN RM Said Surakarta, yang hadir sebagai moderator. Diskusi menghadirkan dua narasumber utama dengan perspektif berbeda namun saling melengkapi. Pemateri Pertama: M. Fauhan Fawaqi, S.IP., M.M., penulis buku Feminis Nusantara, menekankan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, tetapi juga ideologi bersama. Ia mengulas fenomena sosial yang selalu bergerak melalui tesis, antitesis, dan sintesis. Dalam refleksinya, Fauhan juga menyinggung dinamika demonstrasi mahasiswa yang kadang terjebak dalam anarkisme, serta mengaitkannya dengan sejarah perjuangan Raden Mas Said. Fauhan menyoroti peristiwa Perang Mangkubumi, politik divide et impera Belanda, hingga lahirnya Perjanjian Giyanti yang memisahkan Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta. Meski demikian, Raden Mas Said tidak tinggal diam dan terus melanjutkan perlawanan terhadap VOC. Bagi Fauhan, spirit perlawanan tersebut harus dibaca sebagai energi kebudayaan yang melahirkan ideologi perlawanan rakyat.
Gambar: Foto para pemateri dan moderator sedang menjawab dialog dengan para peserta acara Senin, (6/10/2025)
Pemateri Kedua: Raha Bistara, M.Ag., dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, menghadirkan perspektif intelektual-islami dari Keraton Mataram Kartasura. Menurutnya, Pakubuwono bersama para ulama dan intelektual muslim menulis kitab-kitab penting sebagai pedoman bagi para pangeran keraton. Salah satunya adalah kisah Iskandar dari surat Al-Kahfi yang ditujukan untuk membentuk visi kepemimpinan pangeran seperti Sultan Agung. Raha menegaskan bahwa Mataram Kartasura telah berupaya menyeimbangkan struktur keraton dengan menerapkan prinsip kesetaraan gender. Ia juga menyoroti visi Ratu Pakubuwono yang bernafaskan Islam, sebagaimana termaktub dalam serat-serat yang ditulis bersama para intelektual keraton. Dari proses tersebut lahir tokoh penting seperti Mangkunegara I dan Pakubumi yang membawa tradisi sintesis mistik dalam kehidupan keraton.

Foto bersama dengan peserta kegiatan, Merayakan Identitas Raden Mas Said dalam Dialog Senin, (6/10/2025)
“Jika kamu melakukan kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali padamu di kemudian hari,”ungkap Raha, menegaskan filosofi dasar yang membimbing para bangsawan Jawa dalam
tradisi keislaman. Penutup Acara Dialog kebudayaan ini tidak hanya menjadi ajang akademis, tetapi juga momentum refleksi atas sejarah, budaya, dan nilai Islam, diharapkan mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta dapat terus melanjutkan semangat intelektual dan kebudayaan yang diwariskan oleh Raden Mas Said dan para leluhur Jawa. Acara ditutup dengan pembacaan doa bersama. (Nug/Humas) Foto: Istimewa