
Oleh: Joko Susilo
UIN SURAKARTA - Hijrah sering kali dikaitkan dengan memutuskan dan meninggalkan dari yang buruk ke sesuatu yang baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hijrah memiliki makna sebagai perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama dengan sahabatnya dari Mekah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy.
Akan tetapi, di era digitalisasi ini, hijrah bisa diartikan dengan kembali mendekat pada buku tanpa meninggalkan perkembangan teknologi yang semakin maju. Kini, orang-orang semakin terbiasa mencari segala informasi itu melalui gadget, seperti membaca berita di media sosial. Selain itu, mereka terbiasa menyelesaikan sebuah permasalahan dan pekerjaan dengan menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Meski demikian, kemajuan teknologi tidak seharusnya meninggalkan manfaat dan keindahan membaca buku secara langsung.
Kita harus menanamkan kecintaann pada buku karena buku mempunyai keistimewaan sendiri yang membuat kita bisa menumbuhkan rasa empati dan mendapatkan pengetahunan secara fisik. Buku tidak hanya sumber informasi, tetapi juga merupakan sarana melatih empati dan imajinasi kita. Contohnya, saat kita membaca novel, kita bisa masuk ke dalam alur ceritanya, sehingga kita bisa merasakan perasaan tokoh-tokoh yang ada di dalam novel tersebut. Tidak hanya itu, kita juga bisa memahami makna kehidupan lain dari sudut pandang yang berbeda serta melatih menumbuhkan rasa kepekaan sosial dan empati di lingkungan sekitar kita. Kita harus menciptakan pengalaman membaca yang unik dan fokus tanpa gangguan digital, sehingga sensasi membalik halaman dan interaksi dengan buku fisik tetap memiliki keistimewaan di tengah gempuran teknologi yang menyediakan, e-book, aplikasi baca, dan berbagai sumber bacaan lainnya.
Kemajuan teknologi semestinya digunakan untuk mendukung minat baca kita, jangan sampai mengurangi kecintaan kita terhadap buku cetak. Teknologi, seperti katalog digital, e-book, dan aplikasi lainnya dapat membantu kita dalam mengakses buku menjadi lebih mudah; mencari informasi dengan cepat; dan mendapatkan informasi dengan lebih luas. Sekarang, kita bisa mendapatkan keduanya, perpaduan antara buku fisik dan kemajuan teknologi, “hidup” berdampingan secara harmonis di perpustakaan. Misalnya, perpustakaan menyediakan layanan internet untuk mencari jurnal atau artikel yang tidak ada di buku atau koleksi tercetak.
Maka dari itu, “Hijrah ke Perpustakaan” menjadi sangat penting karena perpustakaan adalah tempat di mana kita dapat melatih konsentrasi dan membaca dengan baik. Di perpustakaan, kita diajak untuk menikmati proses belajar; memahami informasi secara lebih menyeluruh; dan mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya, sehingga kita mendapatkan wawasan yang lebih luas. Tidak hanya itu, “Hijrah ke Perpustakaan” juga akan menumbuhkan rasa empati yang ada dalam diri kita terhadap apa yang kita baca dan mendapatkan kedalaman informasi dibandingkan dengan dunia digital yang serba cepat.
Perpustakaan juga berperan menjadi ruang interaksi sosial. Kita dapat berbagi wawasan, berdiskusi, bahkan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kegemaran membaca yang sama sehingga kita bisa menumbuhkan rasa kebersamaan. Maka dari itu, “Hijrah ke Perpustakaan” bukan hanya mencintai buku fisik, tetapi bisa membangun komunitas literasi yang positif. Teknologi di perpustakaan berfungsi untuk menghubungkan antara pencinta buku fisik dengan pengguna teknologi, sehingga bisa menciptakan keseimbangan antara memanfaatkan teknologi untuk kemudahan akses sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai saat membaca buku.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, “Hijrah ke Perpustakaan” khususnya di UIN Surakarta menjadi langkah penting untuk menjaga informasi utuh, empati, dan kecintaan pada literasi. Teknologi digunakan untuk mendukung dan memperkaya pengalaman belajar, bukan untuk menghilangkan kecintaan terhadap buku fisik. Perpustakaan adalah jembatan penghubung antara teknologi yang terus berkembang dengan kecintaan kita pada buku, sehingga kita mendapatkan nilai-nilai kemanusiaan yang terus bertambah.
UIN Surakarta Tuai Pujian dari Dr. Ismail Cawidu atas Capaian dan Transformasi Kampus
2 hari yang lalu - Umum