Loading...

Haul Mangkunegoro I, UIN Surakarta Bicara Tentang Legasi Menjadi Muslim Jawa

4 Desember 2025 15:14 WIB 252
Baca

UIN SURAKARTA - Nama Raden Mas Said yang digunakan sebagai nama satu-satunya kampus Islam negeri yang ada di wilayah Solo raya yang meliputi Surakarta, Sragen, Karanganyar, Wonogiri, Boyolali, dan Klaten; sejatinya adalah nama asli dari Mangkunegoro I, sang pendiri Kadipaten Mangkunegaran. Oleh karenanya, sangatlah wajar jika dalam rangka haul di tahun ini juga disemarakkan oleh UIN Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta). 

Bertempat di Ruang Teather Gd. SBSN komplek UIN Surakarta kampus Pucangan Kartasura, siang ini (Kamis, 4/12/2025), Rektor dan Wakil Rektor, jajaran dekanat, serta dosen dan sivitas akademika lainnya hadir dalam seminar dalam rangka haul Mangkunegoro I. Mewakili Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegoro X, seminar ini dihadiri oleh  Kanjeng Pangeran Haryo Drs. Tjuk Susilo, MPA selaku Pengageng Kawedanan Mandrapura Mangkunegaran. Bertajuk "Legasi Menjadi Muslim Jawa", kegiatan seminar ini bertujuan mengangkat tentang teladan yang diberikan oleh Raden Mas Said yang juga dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa yang menjadi salah satu pemimpin pasukan muslim yang ditakuti oleh para penjajah khususnya Belanda. 

Memberikan sambutannya sekaligus membuka acara ini, Rektor UIN Surakarta, Prof. Toto Suharto mengawali dengan kebiasaan melakukan manakib dalam tradisi haul, "Manakib adalah membacakan biografi dari seorang tokoh atau ulama yang dijadikan sebagai salah satu tradisi spiritual". Prof. Toto menjelaskan bahwa tujuan dari manakib adalah meneladani kisah hidup seorang tokoh sebagai bentuk tabarukan dan bukti kecintaan kepada tokoh tersebut. Prof. Toto kemudian melanjutkan hasil telaahnya dari berbagai sumber tertulis tentang Raden Mas Said dan sepak terjangnya dalam menghadapi Belanda serta berbagai hal dalam melakukan praktik beragama sebagai seorang muslim sekaligus seorang pemimpin atau dalam istilah jawa disebut panatagama. Dari sekian hal hasil telaahnya, Prof. Toto sangat tertarik dengan semboyan yang disampaikan oleh Pangeran Sambernyawa yaitu tiji tibeh yang memiliki makna mati siji mati kabeh (mati satu, mati semua) dan mukti siji mukti kabeh (hidup mulia satu, hidup mulia semua). Hal tersebut mengandung maksud bahwa baik duka maupun suka harus dijalani bersama-sama. 

Rektor juga sangat mengapresiasi pemberian gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Raden Mas Said yang telah berkiprah dalam kehidupannya bukan untuk kepentingannya sendiri, namun semua hal dilakukan untuk kepentingan bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat penuh atas dirinya. Menutup sambutannya, Rektor memberikan beberapa hal sebagai refleksi dari haul Mangkunegara I kali ini. "Apapun posisi kita, menjadi muslim yang saleh adalah suatu keharusan" lanjutnya. Muslim saleh yang dimaksud adalah muslim yang juga menjunjung nilai-nilai budaya lokal. Rektor juga mengingatkan tentang menjadi sufi modern yang tetap berpegang teguh pada Al Qur'an yang membalut semua hal dengan kejernihan hati. "Hidup muslim tidak bisa menjauhkan diri dari masjid karena masjid adalah awal dari peradaban kita" pungkasnya. (Tris/Humas) Foto : Zaki/Dandy/Deddy