Loading...

HAB Kemenag 80, Rektor UIN Surakarta : Terimakasih Atas Semua Capaian di 2025

3 Januari 2026 08:40 WIB 103
Baca

UIN SURAKARTA - Puncak kegiatan HAB ke-80 ditandai dengan dilakukannya upacara bendera secara serentak di seluruh wilayah Indonesia pada pagi ini 3 Januari 2026. Bertemakan “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama RI ke-80 tahun 2026 diperingati oleh seluruh insan Kemenag yang berada di lingkungan Kantor Kemenag Wilayah, Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, Kantor Urusan Agama, hingga satuan kerja (satker) terkecil yaitu madrasah. UIN Raden Mas Said Surakarta sebagai salah satu satkernya tentu saja ikut menyambut dan memeriahkannya.

Diikuti oleh para pimpinan di jajaran rektorat hingga fakultas dan unit, ratusan dosen dan tenaga kependidikan (tendik) UIN Surakarta hadir mengikuti upacara yang dilangsungkan di depan gedung SBSN kampus Pucangan Kartasura. Upacara yang dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Toto Suharto berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Di dalam rangkaian upacara juga dilakukan penyerahan Satya Lencana Pengabdian bagi pegawai yang telah mencapai 20 tahun mengabdi serta penyerahan beasiswa UPZ (Unit Pengumpul Zakat) bagi para mahasiswa yang berprestasi.

Sesaat sebelum membacakan sambutan Menteri Agama RI, Rektor mengawalinya dengan mengucapkan terimakasih atas semangat lurik dari seluruh sivitas akademik UIN Surakarta sehingga bisa hadir dalam rangka upacara hab ke 80, "Semoga 395 dosen dan 262 tendik bisa hadir pada hari ini". Dirinya juga bersyukur atas semua capaian-capaian UIN Surakarta selama tahun 2025. "Ini semua tidak bisa dicapai tanpa adanya LURIK. Untuk menyongsong 2026, kita akan berkolaborasi lebih baik lagi." Rektor juga memberikan informasi bahwa telah hadir Kepala Biro AUPK yang baru dan mengingatkan bahwa hari ini akan ada penanaman 1000 pohon dan pengecekan kesehatan gratis di klinik. 

Dalam sambutan Menag yang dibacakan oleh Rektor, Menag menyatakan bahwa tema peringatan HAB Kemenag ke 80 ini menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik, melainkan sebuah energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi yang produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif untuk menggerakkan kemajuan bangsa. Kehadiran Kementerian Agama bukan semata lahir dari tuntutan sosiologis, melainkan merupakan kebutuhan nyata bangsa yang majemuk. Republik ini tidak dibangun oleh satu golongan, melainkan oleh sinergi seluruh komponen bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga hari ini. Para founding fathers Kementerian Agama meletakkan cita-cita besar agar lembaga ini berkontribusi nyata dalam membina kehidupan keagamaan yang damai, sekaligus membuka jalan selebar-lebarnya bagi terwujudnya masyarakat yang adil, rukun, dan sejahtera. Menag juga menyatakan bahwa delapan puluh tahun perjalanan ini menegaskan bahwa Kementerian Agama didirikan sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Kini, peran tersebut semakin luas dan semakin krusial: meningkatkan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, merawat kerukunan umat beragama yang berlandaskan cinta kemanusiaan, memberdayakan ekonomi umat, serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi bagi persoalan bangsa. (Editor : Tris) Foto : Zaki/Nug/Dandy/Deddy/Angga