
UIN SURAKARTA – Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) mendapatkan undangan istimewa untuk mengikuti Council of University Presidents of Thailand (CUPT)-Council of Rector of Indonesia State University (CRISU) Conference 2025 yang digelar pada 25-26 Agustus 2025 di Ibu Kota Nusantara (IKN). Delegasi UIN Surakarta langsung dipimpin oleh Rektor Prof. H. Toto Suharto dan ditemani oleh Wakil Rektor III (WR III) Bidang Kemahasiswaan Alumni dan Kerjasama, Dr. Abdulloh Faishol, Kepala Pusat Hubungan Internasional, Wildi Adila, M.A., serta dua perwakilan mahasiswa.
Dalam acara tersebut, UIN Surakarta ikut dalam pembahasan mengenai isu-isu strategis di bidang pendidikan tinggi, seperti mobilitas internasional, kolaborasi riset, dan penguatan kualitas akademik melalui pertukaran pengalaman lintas institusi. Kehadiran di acara ini sekaligus memperkuat komitmen UIN Surakarta dalam membangun kemitraan dengan kampus-kampus di tingkat regional maupun internasional. Rektor UIN Surakarta juga menekankan tentang pentingnya keberlanjutan dan inklusivitas. Dengan demikian, acara-acara yang dihadiri oleh UIN Surakarta bisa benar-benar memberikan kontribusi nyata.

“Internasionalisasi perguruan tinggi harus menyentuh aspek keberlanjutan dan inklusivitas, sehingga kehadiran kita di forum global benar-benar membawa kontribusi nyata, tidak hanya bagi kampus, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan,” ucap Prof. H. Toto. CUPT-CRISU Conference 2025 ini digelar dengan berbagai kegiatan, mulai dari plenary session, diskusi panel, hingga forum tematik yang mempertemukan pimpinan universitas dari Indonesia dan Thailand.
Dua perwakilan mahasiswa UIN Surakarta, Miftah Alkhadadi dan Sadam Agusti Dwi Ardiyan, ikut dalam proses diskusi yang mempertemukan antarmahasiswa di kawasan Asia Tenggara. Mereka membahas mengenai rekomendasi formula kebijakan berlandaskan keberlanjutan dan nilai inklusif. Dalam isu ketahanan pangan, usulan yang diajukan adalah model “satu universitas, satu desa” sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian masyarakat. Universitas didorong untuk melakukan survei, observasi, dan pemetaan potensi desa, kemudian mengembangkan program pemberdayaan seperti pertanian hidroponik. (Zaki/Wildi/Humas) Foto: Istimewa/Wildi