UINSURAKARTA- Seperti yang ramai dikabarkan di masyarakat, Rabu, (25/02/2026) ini ada mahasiswa dari UIN Surakarta yang dengan keahlian berfikirnya mengupas tuntas rahasia puasa dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din secara komprehensif. Iya, dalam tulisannya dengan judul Dari Lapar Menuju Ma’rifat, Mahasiswa BSA Kupas Rahasia Puasa dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din pada Ramadhan 2026 yang tertuang dalam https://uinsaid.ac.id/ dirinya menjelaskan Rahasia Puasa sebagai berikut.
Foto: Adang Nazriel Kurnia, Mahasiswa BSA UIN SURAKARTA Rabu, (25/02/2026)
Ramadhan 1447 H/2026 M menjadi momentum penguatan spiritual melalui kajian tasawuf yang mendalam. Adang Nazriel Kurnia, mahasiswa sekaligus penulis kitab Jawahirul Qulub, didaulat menyampaikan kajian kitab Ihya Ulumuddin karya ulama besar Imam Abu Hamid al-Ghazali. Kajian tersebut memusatkan perhatian pada pembahasan Asrâr al-Shawm (Rahasia Puasa), yang mengurai dimensi lahir dan batin ibadah puasa secara komprehensif.
Dalam penyampaiannya, Adang menekankan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban fikih untuk menahan makan dan minum, melainkan sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf Al-Ghazali, akar berbagai dosa bersumber dari dominasi hawa nafsu yang diperkuat oleh kenyang, syahwat, dan kelalaian. Karena itu, puasa berfungsi melemahkan dorongan hewani agar cahaya hati (nur al-qalb) kembali bersinar. “Perut adalah pintu utama syahwat. Ketika perut dikendalikan, maka syahwat lain ikut melemah. Dari sinilah hati menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran,” ujar Adang di hadapan jamaah.
Ia menguraikan tiga tingkatan puasa sebagaimana dijelaskan dalam Ihya Ulumuddin. Pertama, puasa umum, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan biologis. Kedua, puasa khusus, yaitu menjaga seluruh anggota badan dari dosa—menahan pandangan dari yang haram, menjaga lisan dari dusta dan ghibah, serta menghindarkan pendengaran dari hal sia-sia. Ketiga, puasa khususil khusus, yakni puasa hati dari selain Allah, termasuk ambisi duniawi berlebihan, riya’, hasad, dan kelalaian batin.
Menurutnya, pada tingkatan tertinggi itulah puasa menjadi jalan menuju ma’rifatullah. Hati yang tidak disibukkan oleh syahwat akan lebih mudah menghadirkan kesadaran akan pengawasan Allah dalam setiap keadaan. Dalam salah satu bagian ceramahnya, Adang menyampaikan refleksi mendalam kepada jamaah. Ia menegaskan bahwa banyak orang mampu menahan lapar, namun belum tentu mampu menahan amarah. Padahal, menurut Al-Ghazali, inti puasa adalah mematahkan dominasi ego. “Jika kita berpuasa tetapi masih gemar mencaci dan mudah tersinggung, maka yang lapar hanya perut kita, bukan hawa nafsu kita,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan puasa dengan tahapan maqam spiritual dalam tasawuf, seperti sabar, zuhud, tawakal, dan ikhlas. Puasa, katanya, melatih kesabaran dalam menghadapi provokasi, menumbuhkan sikap zuhud terhadap kenikmatan dunia, serta membangun keikhlasan karena ibadah ini bersifat rahasia antara hamba dan Tuhannya. Adang juga menjelaskan bahwa dalam kondisi lapar, manusia cenderung lebih rendah hati dan mudah menyadari kelemahan dirinya. Keadaan tersebut membuka ruang kontemplasi dan taubat. “Ramadhan adalah madrasah ruhani. Ia mendidik kita agar tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan kesombongan, kemarahan, dan kecintaan berlebihan pada dunia,” tuturnya.
Kajian yang berlangsung selama Ramadhan itu mendapat respons positif dari jamaah. Pendekatan tasawuf yang disampaikan secara sistematis—mulai dari pembacaan teks Arab, penjelasan makna, hingga aplikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari—dinilai mampu memperdalam pemahaman tentang hakikat puasa. Melalui pengkajian Ihya’ ‘Ulum al-Din, Adang Nazriel Kurnia mengajak umat memaknai Ramadhan sebagai perjalanan transformasi diri. Puasa tidak berhenti pada ibadah lahiriah, tetapi menjadi sarana pembinaan akhlak dan penyucian hati, sehingga selepas Ramadhan, perubahan itu tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.
Ust. Adang Nazriel Kurnia, Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta ini selain dikenal sebagai akademisi muda, Adang juga merupakan penghafal Al-Qur’an yang menempuh pendidikan pesantren di bawah bimbingan Dr. KH Ahmad Muhamad Mustain Nasoha di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah. Latar belakang akademik dan pesantren tersebut membentuk karakter keilmuannya yang memadukan tradisi turats (kitab klasik) dengan pendekatan akademis. Dalam berbagai kesempatan, Adang tidak hanya aktif mengisi kajian kitab, tetapi juga telah melahirkan karya ilmiah berbahasa Arab berjudul Jawahirul Qulub, sebuah karya yang membahas Ilmu Tasawuf secara sistematis, mulai dari konsep tazkiyatun nafs, maqamat (tahapan spiritual), hingga ahwal (kondisi batin). Karya tersebut menjadi bukti keseriusannya dalam mengkaji dimensi batin Islam secara mendalam dan metodologis.
Tak berhenti di situ, saat ini ia juga tengah menyelesaikan pengajian Faidhul Barokat fi Sab’il Qiroat (Qira’ah Sab’ah) di pesantren yang sama. Pendalaman terhadap disiplin ilmu Al-Qur’an tersebut menunjukkan konsistensinya dalam menguasai ragam keilmuan, baik dalam bidang tasawuf maupun ulumul Qur’an. Pengurus Masjid menyampaikan apresiasi atas kontribusi generasi muda akademisi dalam menghidupkan kembali tradisi kajian kitab klasik di tengah masyarakat perkotaan. Menurut mereka, kehadiran sosok muda yang mendalami turats menjadi angin segar dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan Islam. “Tradisi kajian kitab tidak boleh terputus. Kehadiran ustaz muda seperti ini memberi harapan bahwa estafet keilmuan tetap berjalan,” ujar salah satu pengurus masjid.
Antusiasme jamaah terlihat dari kesungguhan mereka menyimak materi, mencatat poin-poin penting, serta mengikuti sesi tanya jawab dengan penuh perhatian. Beberapa jamaah mengaku mendapatkan pemahaman baru, terutama dalam melihat Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembinaan spiritual dan perbaikan akhlak. Dengan terselenggaranya kajian kitab ini, diharapkan semakin berperan bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu, pembinaan karakter umat, serta ruang tumbuhnya tradisi intelektual Islam yang berakar kuat pada khazanah klasik. (Editor: Nug) Foto: Istimewa