
UIN SURAKARTA - Wisuda ke-59 Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) kembali dilaksanakan. Para wisudawan yang mendapat kesempatan mengikuti wisuda gelombang pertama pada pagi ini (Rabu, 16/7/2025) tampak memenuhi Aula hingga halaman Gedung Grha UIN Surakarta di kampus Pucangan Kartasura. Wisudawan yang didampingi oleh walinya masing-masing, duduk tertib mengikuti acara sejak pagi ini. Menghadirkan seluruh Guru Besar, Wisuda ke-59 kali ini berlangsung sesuai jadwal yang ditentukan.
Dalam laporannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Surakarta Dr. Zainul Abas selaku Ketua Panitia Wisuda Ke-59 menyatakan bahwa pada wisuda kali ini diikuti oleh sejumlah 1.662 wisudawan, yang terdiri dari Program Sarjana (S1) sejumlah 1.595 orang, Magister (S2) sejumlah 55 orang dan Doktoral (S3) sejumlah 12 orang. Secara terpisah WR I juga memberikan informasi lanjutan bahwa pelaksanaan wisuda kali ini dibagi menjadi 2 gelombang, "Ada 2 gelombang yaitu hari Rabu ini dan Kamis besok." Menurut Abas, pelaksanaan wisuda dibuat menjadi 2 gelombang dimaksudkan agar nuansa "kesakralan wisuda" lebih terasa.

Sesaat setelah memberikan penghargaan bagi wisudawan berprestasi yang sekaligus mengawali prosesi pemindahan kuncir, Rektor UIN Surakarta Prof. Toto Suharto selaku pemimpin acara, memberikan sejumlah poin penekanan dalam sambutannya. Berikut ini sambutan / pidato lengkap Rektor :
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari ini, kita dapat berkumpul dalam Wisuda ke-59 dengan penuh keutamaan. Utama, karena setiap kita di bulan Muharam ini diberi kesempatan untuk berpuasa, yang pahalanya berada di bawah puasa Ramadan. Abu Hurairah meriwayatkan dalam Sahih Muslim (hadis nomor 1163) bahwa Rasulullah bersabda :
فْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
"Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah (puasa) pada Syahrullah Muharam, dan seutama-utama salat setelah (salat) wajib adalah salat malam."
Saudara-saudara yang Diberkahi! Tema wisuda kali ini adalah "Spirit Ekoteologi menuju Glokalisasi Kampus”. Tema ini menyiratkan bahwa kampus glokal juga mensyaratkan pentingnya membangun ulang konsep teologi dalam menata lingkungan alam. Satu buku menarik yang terbit di awal tahun 2025 ini adalah buku editan karya Sally Windsor dan Olof Frank berjudul Intersections of Religion, Education, and a Sustainable World yang diterbitkan oleh Springer. Buku ini menarik karena berbicara pentingnya mengintegrasikan isu keberlanjutan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan ke dalam semua bentuk pendidikan agama, yang selama ini isu integrasi lingkungan dalam dunia pendidikan “sudah lama terlupakan”, termasuk pendidikan agama di tanah air. Melalui Asta Protasnya, Kementerian Agama saat ini sedang fokus untuk mengembalikan isu lingkungan agar terintegrasi dalam ranah pendidikan Islam.
Juga, tema ini menarik karena berdasarkan pencarian dari Harzing, untuk tahun 2000 hingga 2025, hanya terdapat satu artikel yang terindeks Scopus yang berkaitan dengan “Islamic Ecotheology”, yaitu artikel yang ditulis oleh Mohammad Fazlahashemi. Inilah alasan saya mengatakan bahwa integrasi lingkungan dengan pendidikan agama “sudah lama terlupakan”, karena hanya ada satu publikasi terindeks Scopus selama dua puluh lima tahun ini.
Mengutip dari pandangan Fazlahashemi tentang Islamic Ecotheology, dunia saat ini perlu memikirkan ulang terkait paradigma Antropsentrisme dalam pengelolaan alam, sebab paradigma ini hanya konsentrasi pada posisi manusia yang diberi kebebasan untuk mengelola alam, tanpa menghiraukan hak-hak alam. Dalam konteks ini, saya menawarkan paradigma teo-antropkosmosentrisme (Toto Suharto, 2015), yang dapat dijadikan landasan keilmuan untuk membangun keilmuan integrasi, sehingga terjadi harmoni antara Tuhan, manusia dan alam dalam membangun peradaban manusia ini.
Fazlahashemi juga mengkritik pandangan desakralisasi kosmos, sebagaimana di dunia Barat, sebab kosmos, tempat kita berpijak perlu juga “disakralkan”, bukan malah didesakralisasi, sehingga terjadi banyak bencana alam. Rasulullah dalam Hadis Anas bin Malik, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis nomor 6012) dan Muslim (hadis nomor 1553) menyebutkan bahwa :
مَا مِنۡ مُسۡلِمٍ غَرَسَ غَرۡسًا، فَأَكَلَ مِنۡهُ إِنۡسَانٌ أَوۡ دَابَّةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةً
"Tidaklah seorang Muslim menanam sebuah tanaman, kemudian dimakan oleh manusia atau binatang, kecuali tanaman itu menjadi sedekah baginya."
Wisudawan dan Wisudawati yang berbahagia!
Kita semua saat ini, di dunia ini, tentu akan dan selalu melewati tiga dimensi, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa akan datang. Masa lalu adalah pengalaman, bisa berupa pengalaman baik atau pengalaman positif. Untuk masa lalu yang masih dihiasi pengalaman negatif, maka obat terbaiknya adalah istigfar, memohon ampunan kepada Allah. Masa sekarang adalah kenyataan, bisa merupa kenyataan manis atau kenyataan pahit. Untuk kenyataan manis, perbanyaklah bersyukur, dan untuk kenyataan pahit, perbanyaklah bersabar sehingga menjadi pahala bagi kepahitannya. Masa yang akan datang adalah harapan. Hadapilah harapan itu dengan banyak doa, sebab doa adalah intisari ibadah yang tentu memuat agar harapan kita dikabulkan.
UIN Raden Mas Said Surakarta saat ini sedang mengembangkan diri menjadi Kampus Glokal, yaitu jalinan antara global dan lokal. Intinya, UIN Surakarta berpijak dari nilai-nilai lokal untuk kemudian mengglobalkannya ke dalam jaringan global. Bertindak lokal, tapi berpikir global, atau sebaliknya, bertindak global dengan pikiran lokal. Ekoteologi yang dapat menopang bagi penguatan kampus Glokal meniscayakan pentingnya menata tiga dimensi kehidupan di atas. Istigfar, Syukur dan Doa adalah cara Muslim untuk menata kehidupan ini, termasuk kehidupan di kosmos ini.
Hadirin, Bapak/Ibu Yang saya hormati!
Di era digital saat ini, hidup kita disuguhi layanan-layanan digital yang serba instan. Internet of Things dan Kecerdasan Buatan atau AI, telah memanjakan hidup kita dengan sejumlah informasi dan referensi yang booming. Dengan mudahnya kita dapat mengakses sejumlah data dan rujukan melalui internet. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan bagi kita untuk bagaimana agar kita tetap bisa harmoni menjaga kehidupan bertuhan, kehidupan bermanusia dan kehidupan beralam di era Digital. Maka saya harap, Istigfar, Syukur dan Doa ini bisa menjadi warna bagi kehidupan kita sehari-hari. Selamat Wisuda!
Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para wali wisudawan yang telah berkenan kolaborasi, menitipkan putra-putrinya kepada UIN Raden Mas Said Surakarta. Saya juga menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, apabila pelayanan yang kami berikan belum memuaskan semua pihak. Kami berdoa, semoga semua wisudawan ke-59 senantiasa diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam menjalani proses hidup ini. Setiap ijazah yang saya tanda-tangani, ada salawat di dalamnya. Semoga ini menjadi doa keberkahan untuk kita semua.
AYO KULIAH DI KAMPUS GLOKAL UIN SURAKARTA,
KAMPUS RELIJIUS, KULIAH CEPAT LULUS.
Terima kasih, Wassalamu’alaikum wr.wb.
Sukoharjo, 16 Juli 2025
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta
(Tris/Humas) Foto : Mastr/Humas
DWP UIN Surakarta Matangkan Program 2026, Perkuat Pemberdayaan dan Kemanusiaan
21 jam yang lalu - Umum