SINAR- UIN Raden Mas Said Surakarta berkesempatan menjadi tuan rumah gelaran International Conference on Islamic Economics Studies (ICIES) yang ke 3 pada Rabu (27/7). Bertempat di Gedung Graha kampus setempat, acara dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang tergabung dalam Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (AFEBIS), para Wakil Dekan FEBI, Dosen dan staf FEBI serta pengelola jurnal dalam bidang ekonomi Islam seluruh Indonesia.
Dekan FEBI UIN RM. Said Surakarta Dr. M. Rahmawan Arifin, M.Si., dalam sambutannya melaporkan ICIES kali ini mengangkat tema Islamic Economy in Adapting Global Change: Developing Business Resilience and Digital Ecosystem, menerima 290 abstract, 120 full paper dan 51 paper yang lolos untuk dipresentasikan, jelasnya.

Rektor UIN RM. Said Surakarta Prof. Dr. H. Mudofir, S.Ag., M.Pd mengapresiasi kegiatan ICIES yang menghadirkan para penulis dan peneliti untuk mendiskusikan persoalan ekonomi islam dalam beradaptasi dengan dunia global. Kemudian beliau juga menyampaikan seiring dengan dies natalis ke 30 UIN RM Said Surakarta, kita perlu melakukan refleksi tentang peran PTKIN dalam pembangunan bangsa dan bagaimana kampus beradaptasi dengan perubahan sosial.
Karena itu rektor medukung acara ini untuk mendiskusikan apakah peranan ekonomi islam relevan di masa depan atau justru keluar arus pergaulan konsep utama dunia. Kemudian kita juga harus iut terlibat masyarakat terbuka yang memungkinkan untuk terus menerus memperbaiki diri karena mampu menerima apapun dari luar, terangnya.
Sementara itu bertindak selaku keynote speech sekaligus berkesempatan membuka acara Sekretaris Jendral Kementerian Agama Prof. Dr. H. Nizar Ali, M. Ag., mengawali paparannya dengan menyampaikan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan yang luar biasa, menatap masa depan ekonomi syariah dan juga eksistensi fakultas ekonomi dan bisnis islam, ungkapnya.

Prof. Nizar menyampaikan Global Islamic Finance Report 2021 merilis, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam Islamic Finance Country Index (IFCI). Tentu saja, kondisi ini menimbulkan atmosfir optimistik untuk mendorong pertumbuhan industry keuangan syariah Indonesia di tengah kondisi saat ini. Sehingga, kita dapat berbangga hati, bahwa industry keuangan syariah khususnya di Indonesia pada akhirnya menjadi bagian dari rencana ekonomi global untuk mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi.
Lebih lanjut, Prof. NIzar berharap forum ini akan mampu melahirkan berbagai rekomendasi yang kongkrit dalam bentuk penguatan ekonomi syariah di sector riil. Mengingat saat ini ekonomi syariah menjadi elemen penting dalam rencana pemulihan perekonomian global pasca pandemi, maka bentuk intervensinya pun harus menyasar kepada sektor riil agar kontribusinya dirasakan secara langsung oleh masyarakat, pungkasnya. (Zat/Humas)
152 Karya Foto Dipamerkan, UIN Surakarta Lahirkan Ruang Apresiasi Visual Mahasiswa
2 hari yang lalu - Umum