
Di Balik Keinginan Masuk "Circle": Konformitas, Kebutuhan Sosial, dan Jati Diri Mahasiswa
Oleh: Najihah Nur Auliya
Mahasiswa UIN Surakarta
#uinsurakarta #kampusunggulinovatif #UinsaidUnggul #AyoKuliahdiUINSAID
Perkembangan lingkungan sosial di kalangan mahasiswa saat ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola interaksi dan gaya hidup. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu yang menempuh pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok sosial yang memiliki dinamika tersendiri. Dalam konteks ini, penerimaan sosial menjadi salah satu kebutuhan penting yang mendorong individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan penelitian (Kavakli & Ünal, 2021) yang menjelaskan bahwa kebutuhan akan rasa memiliki belongingness berhubungan erat dengan perilaku individu dalam lingkungan sosial.
Di lingkungan mahasiswa saat ini, fenomena “ikut arus” dalam pertemanan menjadi hal yang cukup umum terjadi. Banyak mahasiswa merasa perlu menyesuaikan diri dengan gaya hidup kelompoknya, mulai dari cara berpakaian, tempat nongkrong, hingga pola konsumsi sehari-hari. (Yauseph, 2025) menemukan bahwa social comparison pada mahasiswa membuat individu lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga terdorong mengikuti standar kelompok. Tidak jarang, hal tersebut dilakukan bukan karena keinginan pribadi, melainkan karena adanya dorongan untuk diterima dan dianggap sebagai bagian dari circle pertemanan.
Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa merasa tidak nyaman menjadi dirinya sendiri. Mereka cenderung menyembunyikan preferensi pribadi dan mengikuti standar yang berlaku dalam kelompok agar tidak dianggap berbeda atau bahkan dikucilkan. Rasa takut tidak diterima inilah yang kemudian mendorong munculnya perilaku “ikut-ikutan”, meskipun terkadang bertentangan dengan kondisi atau nilai yang dimiliki individu. Kondisi tersebut juga diperkuat oleh penelitian (Zuo & Zan, 2025) yang menunjukkan bahwa upward social comparison dapat menurunkan self-esteem dan kesejahteraan psikologis mahasiswa apabila dilakukan secara berlebihan.
Fenomena tersebut tidak terlepas dari kebiasaan individu membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitar, terutama melalui media sosial (Kavakli & Ünal, 2021) Mahasiswa yang mengikuti gaya hidup tertentu demi diterima dalam lingkungan pertemanan semakin terlihat jelas di kehidupan perkuliahan saat ini. Mulai dari penggunaan outfit yang mengikuti tren, kebiasaan nongkrong di kafe dengan harga relatif mahal, hingga gaya konsumsi lainnya, sering kali dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan untuk “masuk circle”. Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan sosial menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk perilaku mahasiswa.
Penelitian (Zuo & Zan, 2025) menunjukkan bahwa kecenderungan melakukan social comparison secara terus menerus berhubungan dengan rendahnya kesejahteraan psikologis mahasiswa. Jika terus dibiarkan, tekanan untuk selalu menyesuaikan diri dapat memicu berbagai masalah, seperti stres, kecemasan sosial, hingga hilangnya kepercayaan diri. Selain itu, mahasiswa juga berpotensi mengalami tekanan finansial akibat memaksakan diri mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuannya.
Beberapa penelitian dalam psikologi sosial menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan konformitas. Dalam sebuah jurnal yang membahas perilaku konformitas mahasiswa, ditemukan bahwa individu cenderung menyesuaikan diri dengan kelompok untuk menghindari penolakan sosial dan memperoleh rasa aman dalam interaksi. Selain itu, faktor seperti keinginan untuk diakui, rasa takut tidak dianggap, serta kebutuhan akan identitas sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut.
Hasil penelitian tersebut sejalan dengan kondisi yang sering ditemui di lingkungan perkuliahan. Banyak mahasiswa yang secara tidak sadar membentuk standar tidak tertulis dalam kelompok pertemanan. Standar ini kemudian menjadi acuan bagi anggota baru atau individu yang ingin diterima. Menariknya, tekanan ini tidak selalu datang secara langsung, tetapi bisa muncul melalui perbandingan sosial, media sosial, atau kebiasaan kelompok yang terus diulang.
Namun, jika ditinjau lebih dalam, fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Dalam beberapa kasus, mengikuti gaya hidup kelompok dapat membantu mahasiswa beradaptasi dan membangun relasi sosial. Akan tetapi, ketika konformitas dilakukan secara berlebihan, hal ini justru berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti tekanan finansial, kecemasan sosial, hingga hilangnya kepercayaan diri karena merasa harus selalu “menyamai” orang lain.
Menurut saya, poin penting dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa konformitas sebenarnya merupakan hal yang wajar, tetapi perlu dikontrol. Mahasiswa seharusnya mampu membedakan antara adaptasi sosial yang sehat dan tekanan yang merugikan diri sendiri. Lingkungan pertemanan yang baik bukanlah yang menuntut keseragaman, melainkan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri.
Konformitas merupakan salah satu konsep penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana individu menyesuaikan sikap, perilaku, atau pandangannya agar sesuai dengan kelompok. Menurut (Elza, 2025) konformitas terjadi ketika seseorang mengubah responsnya karena adanya tekanan kelompok, baik secara nyata maupun tersirat. Eksperimen klasiknya menunjukkan bahwa individu tetap mengikuti jawaban kelompok meskipun mereka tahu jawaban tersebut salah, demi menghindari perbedaan dan potensi penolakan sosial.
Dalam konteks mahasiswa, konformitas sering muncul dalam bentuk penyesuaian gaya hidup agar dapat diterima dalam suatu “circle”. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan dasar manusia untuk memiliki relasi sosial. Individu cenderung mengikuti norma kelompok karena adanya dorongan untuk diterima (need to belong) serta kekhawatiran akan penolakan. Dengan kata lain, tekanan sosial tidak selalu bersifat eksplisit, tetapi bisa hadir melalui ekspektasi tidak tertulis dalam kelompok pertemanan.
Temuan tersebut juga didukung oleh (Salsabila et al., 2024) yang menjelaskan bahwa kualitas pertemanan lebih berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis dibandingkan sekadar banyaknya relasi yang dimiliki seseorang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin baik kualitas hubungan pertemanan yang dimiliki individu, maka semakin baik pula kondisi kesehatan mentalnya. Secara teoretis, hasil ini sejalan dengan pandangan dalam psikologi sosial yang menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai faktor yang berperan dalam menjaga kesejahteraan psikologis individu.
Salah satu penelitian yang mendukung pembahasan mengenai pentingnya kualitas pertemanan terhadap kesehatan mental mahasiswa dilakukan oleh (Sharma & Jahan, 2022). Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 201 mahasiswa berusia 18-22 tahun di Aligharh Muslim University, India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pertemanan yang baik mampu memberikan dukungan emosional, sosial, dan akademik sehingga berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Temuan tersebut menujukkan bahwa hubungan pertemanan memiliki peran positif terhadap kesehatan mental. Namun, dalam realitas kehidupan mahasiswa, hubungan pertemanan tidak hanya menjadi sumber dukungan, tetapi juga dapat menjadi ruang munculnya tekanan konformitas. Keinginan untuk diterima dalam suatu circle sering kali mendorong mahasiswa menyesuaikan gaya hidup, pola konsumsi, bahkan mengesampingkan nilai atau preferensi pribadinya. Di sinilah muncul dilema antara memenuhi kebutuhan sosial dan mempertahankan jati diri. Meskipun penelitian tersebut lebih berfokus pada kualitas pertemanan dan kesehatan mental, temuan tersebut menjadi dasar untuk memahami bagaimana kebutuhan akan hubungan sosial dapat berkembang menjadi tekanan konformitas ketika individu berusaha memperoleh penerimaan dari kelompok.
Fenomena yang berkembang di lingkungan mahasiswa menunjukkan bahwa individu kerap melakukan penyesuaian diri secara berlebihan, seperti dalam aspek gaya hidup, pola interaksi, hingga pengambilan keputusan tertentu. Penyesuaian tersebut tidak selalu didasarkan pada kebutuhan atau nilai pribadi, melainkan lebih dipengaruhi oleh keinginan untuk memperoleh penerimaan sosial dan menghindari penolakan. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan konformitas yang berpotensi mengurangi kebebasan individu dalam mengekspresikan diri secara autentik. Selain tekanan konformitas, konflik dalam hubungan pertemanan juga dapat muncul akibat perbedaan karakter dan kepribadian (Somadi et al., 2025).
Fenomena konformitas di kalangan mahasiswa sebenarnya bukan hanya persoalan mengikuti tren, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk diterima oleh lingkungan sosial. Ketika kebutuhan tersebut dipenuhi melalui hubungan pertemanan yang sehat, konformitas dapat menjadi bentuk adaptasi positif. Sebaliknya, apabila penerimaan kelompok diperoleh melalui tekanan untuk selalu menyerupai orang lain, maka konformitas berpotensi mengurangi kebebasan individu dalam mengekpresikan jati dirinya. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, konformitas justru dapat membuat seseorang kehilangan jati diri dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai maupun kondisi pribadinya.
Oleh karena itu, mahasiswa perlu mampu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk diterima dalam kelompok dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri. Penting untuk memiliki kesadaran diri agar tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial yang negatif. Selain itu, lingkungan pertemanan juga sebaiknya dibangun atas dasar saling menghargai, bukan tuntutan untuk selalu sama. Dengan begitu, setiap individu dapat berkembang secara autentik tanpa harus merasa tertekan untuk mengikuti standar kelompok tertentu.
Referensi
Elza, P. (2025). Dinamika Konformitas Dalam Kelompok Sosial. Jurnal Psikologi Sosial, Vol. 1 No. 1 September 2025 Hal. 8-14.
Kavakli, M., & Ünal, G. (2021). The effects of social comparison on the relationships among social media addiction, self-esteem, and general belongingness levels. Current Issues in Personality Psychology, 9(2), 114–124. https://doi.org/10.5114/cipp.2021.105349
Salsabila, A. R., Hermina, C., & Julaibib, J. (2024). Kualitas Pertemanan Dan Kesejarteraan Psikologis: Prespektif Mahasiswa. Jurnal Psikologi Wijaya Putra (Psikowipa), 5(1), 12–22. https://doi.org/10.38156/psikowipa.v5i1.131
Sharma, D., & Jahan, M. (2022). Quality of Friendship and Mental Health among College students . International Journal of Novel Research and Development, 7(8), 1399–1404.
Somadi, A. F., Naryoso, A., & Nabila, N. L. (2025). Dinamika konflik pertemanan karena perbedaan kepribadian. Comdent: Communication Student Journal, 3(1), 36–52. https://jurnal.unpad.ac.id/comdent/article/view/62710
Yauseph, F. (2025). Gambaran Social Comparison pada Mahasiswa di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 5(1), 339–342. https://doi.org/10.56326/jpk.v5i1.6360
Zuo, F., & Zan, Q. (2025). Cyber upward social comparison and well-being among college students: the chain mediating roles of self-esteem and emotional regulation. BMC Psychology, 13(1). https://doi.org/10.1186/s40359-025-03521-2
PENGAMBILAN DAN PENGEMBALIAN TOGA WISUDA SARJANA, MAGISTER, DAN DOKTOR KE 62
5 jam yang lalu - Umum